Oleh: Dr. Heri M. Tohari – Dosen Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAIPI) Garut
BETUL juga sebuah istilah, ketampanan akan terkalahkan oleh kemapanan. Begitu juga yang good looking akan terkalahkan oleh good rekening. Sehingga, dompet teballah yang membuat wajah pas-pasan menjadi termaafkan. Tidak ada wajah jelek di dunia ini, yang ada adalah dompet yang belum estetik.
Kalau sedang gabut seperti ini, suka berpikir harus kaya dulu, baru akan dihargai. Kadang juga ingin mencari jalan pintas cepat kaya dengan cara mencari info tuyul. Hanya sekedar duduk berduaan dengan tuyul untuk mengobrol tentang ‘piduiteun’. Tidak apa-apa tuyul second juga. Biar tidak perlu mahal, asal menghasilkan.
Tapi dalam obrolan tersebut ternyata sang tuyul justru yang duluan curhat. Katanya susah banget mencari uang untuk jaman sekarang seperti ini. Baroke semua target sasarannya. Maklum sedang resesi ekonomi di negeri konoha. Ditambah lagi, para manusia sedang gandrung membayar dengan keris, sehingga susah dicuri oleh para tuyul.
Baca Juga:PMII Garut Kritik Anggaran Kendaraan Inspektorat, Dinilai Tidak Mencerminkan Semangat EfisiensiBumdes se-Jawa Barat Didorong Perkuat Kolaborasi dengan KDKMP dan Sektor Swasta
Segala transaksi umat manusia memakai keris, bukan dengan uang cash. Hal inilah yang cukup membingungkan kaum tuyul. Maklum kaum ini belum mengenal scan barcode. Penyebutannya pun dengan istilah keris, bukan QRIS. Sosok kejadulan yang menjadi identitas primitif para tuyul.
Zaman sekarang memang saingan tuyul, bukan lagi para dukun. Tetapi, teknologi umat manusia. Sangat kasat mata sekali pertarungan antara tuyul dengan QRIS. Atau tradisional melawan posmodernitas. Atau juga pengandaian, antara keris Empu Gandring melawan QRIS Empu Banking.
Interupsi terhadap tuyul dilontarkan. Mengapa tuyul tidak pernah mau menggondol uang yang ada di mesin ATM saja. Yang sudah barang tentu tersimpan adanya uang yang banyak. Namun, tetap dengan setia masih mencari mangsa ke rumah-rumah yang menyimpan uang cash di dompet, bawah bantal, atau sekedar uang yang terselip, maaf, di beha emak-emak. Tapi disitulah letak keunikan. Selalu istikomah dengan profesi asalnya. Tidak seinkonsistensi umat manusia.
Harus diakui, jaman uang digital seperti sekarang ini, membuat tuyul menjadi gulung tikar. Pada akhirnya, membuat tuyul yang seharusnya setor kepada manusia, menjadi kasbon. Sehingga, sudah saatnya martabat tuyul dikembalikan lagi kepada marwah asal. Intinya, dalam kasus ini tuyul harus dibela.
