RADARGARUT – Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyatakan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS tidak akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat pedesaan.
Menurutnya, warga desa tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari, sehingga fokus utama tetap pada ketahanan pangan dan energi yang dinilainya masih stabil. Pernyataan ini disampaikan saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, pada 16 Mei 2026.
Namun, pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai pandangan tersebut kurang tepat.
Baca Juga:BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat dan Petir Di Beberapa Bagian IndonesiaHeboh Fotokopi e-KTP Bisa Berujung Penjara, Dukcapil Akhirnya Buka Suara!
“Klaim bahwa masyarakat desa tidak terdampak adalah keliru,” tegas Huda dalam wawancara dengan media pada 17 Mei 2026.
Pelemahan rupiah memicu imported inflation atau inflasi impor yang merembet ke berbagai sektor, termasuk yang paling dekat dengan kehidupan pedesaan.
Saat rupiah melemah tajam hingga menyentuh level Rp17.614 per dolar AS harga barang impor langsung terdorong naik. Bahan bakar minyak (BBM) yang masih bergantung impor menjadi lebih mahal, sehingga biaya distribusi logistik melonjak.
Akibatnya, harga kebutuhan pokok dan barang sehari-hari di pasar desa pun ikut terkerek dalam dua hingga tiga bulan mendatang.Salah satu contoh nyata yang sudah terasa adalah kenaikan harga plastik. Indonesia masih mengimpor bahan baku plastik berupa nafta. Kini, plastik sudah langka dan harganya naik.
Padahal, plastik bukan hanya kemasan, melainkan juga komponen utama berbagai barang, termasuk produk elektronik.
“Apakah di desa tidak ada plastik? Tentu saja banyak, dan itu menggerus dompet masyarakat desa,” ujarnya.
Lebih jauh lagi, televisi, HP, atau peralatan rumah tangga yang banyak dimiliki warga desa mengandung komponen impor. Harga barang elektronik produksi dalam negeri berpotensi naik karena biaya bahan baku dan komponen mahal. Sektor pertanian pun terancam.
Baca Juga:Persib Siap Hadapi Tantangan Melawan PSM Makasar di Stadion BJ HabibieDiburu Hingga Tuntas! Polres Sumedang Amankan Pelaku Curas Sadis yang Gilas Mahasiswi Unpad
Harga pupuk yang bahan bakunya bergantung impor (termasuk gas) diprediksi melambung. Kenaikan ini langsung mengganggu biaya produksi petani, mengurangi pendapatan, dan berpotensi menurunkan hasil panen.Huda menambahkan, daya beli masyarakat saat ini masih lemah akibat tekanan ekonomi sebelumnya.
Produsen mungkin menahan kenaikan harga dengan memangkas margin, tetapi hal itu berisiko memicu efisiensi berlebih hingga gelombang PHK. Jika PHK massal terjadi dalam waktu dekat, konsumsi rumah tangga akan stagnan dan ekonomi nasional semakin melambat efek balik yang justru membuat rupiah sulit pulih.
