Bagi para manusia pengagum tuyal-tuyul-tutuyulan, seharusnya berempati. Jangan mau ketika butuhnya saja. Dulu ketika tuyul menghasilkan, tuyul dilayani dengan baik. Bahkan dulu ada istilah, ‘rek nyiaran hulu tuyul’. Padahal ungkapan ini tentunya sesat pikir. Setiap tuyul sudah pasti botak. Memang, apakah ada kutu di kepala botak?
Manusia memang kaum yang lupa diri dan licik. Setelah tuyul tidak dibutuhkan, maka mereka mencari ‘tuyul-tuyul’ baru yang lebih energik. Tuyul yang loyo dan tidak menghasilkan, ditinggalkannya begitu saja.
Kini, tuyul-tuyul baru mulai bergentayangan, menggantikan tuyul-tuyul lama yang sudah terdesak jaman. Bedanya, tuyul generasi baru ini tidak berkepala plontos. Mereka jenis varietas tuyul yang sudah ada rambutnya.
Baca Juga:PMII Garut Kritik Anggaran Kendaraan Inspektorat, Dinilai Tidak Mencerminkan Semangat EfisiensiBumdes se-Jawa Barat Didorong Perkuat Kolaborasi dengan KDKMP dan Sektor Swasta
Spesies tuyul jenis ini justru sangat berbahaya. Bahkan lebih menindas kepada umat manusia dari tuyul sebelumnya. Tuyul jenis terbaru ini sangat mencekik dan eksploitatif. Mampu menjerat inangnya laksana lingkaran setan. Mampu menghancurkan keharmonisan keluarga. Hingga konflik sosial yang akut di masyarakat. Bahkan, banyak penyitaan aset masyarakat kecil secara paksa. Ya, “tuyul” itu bernama bank emok.
Aku berlindung kepada Tuhan dari godaan “tuyul” bank emok yang terkutuk. (*)
