RADARGARUT– Ujian terberat sekaligus krusial tengah menanti Persib Bandung dalam perburuan mahkota juara kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim ini. Skuad berjuluk Maung Bandung tersebut dijadwalkan melakoni laga tandang bernilai “final” melawan musuh bebuyutannya, PSM Makassar, pada pekan ke-33 Super League 2025/2026.
Sesuai jadwal, bentrokan sengit bertajuk Big Match ini akan digelar di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Sulawesi Selatan, pada Minggu 17 Mei 2026 malam pukul 19.00 WIB disiarkan langsung di Indosiar dan streaming lewat Vidio.
Bagi Persib Bandung, lawatan ke Parepare bukan sekadar pertandingan biasa, melainkan sebuah misi keramat yang penuh dengan rintangan ekstrem. Setidaknya ada tiga tembok besar yang harus diruntuhkan oleh Marc Klok dan kawan-kawan jika ingin pulang membawa tiga poin penuh guna mengamankan posisi puncak klasemen dari kejaran Borneo FC.
Baca Juga:Jutaan Buruh Samsung Mogok Kerja: Ekonomi Terancam AmbrukRupiah Ambruk ke Rp17.600, Warga & Pengusaha Ramai Borong Dolar AS!
1. Bayang-Bayang Rekor Buruk di Markas Juku Eja
Rintangan pertama yang harus dihadapi Maung Bandung adalah catatan sejarah yang kurang bersahabat. Stadion Gelora BJ Habibie selama ini dikenal sebagai tempat yang angker bagi klub kebanggaan masyarakat Jawa Barat tersebut.
Dalam beberapa kunjungan terakhir ke Parepare, Persib kerap pulang dengan tangan hampa setelah dihantam oleh militansi permainan Juku Eja yang didukung penuh oleh ribuan suporter fanatiknya.
Menghapus kutukan rekor buruk tersebut menjadi harga mati bagi anak-anak Bandung demi memperlebar jalan menuju tangga juara.
2. Tantangan Fisik Akibat Perjalanan Jauh
Selain faktor mental akibat rekor buruk, tantangan fisik yang melelahkan juga menjadi musuh nyata. Letak geografis Stadion BJ Habibie di Kota Parepare menuntut skuad Persib melakukan perjalanan berlapis.
Setelah menempuh penerbangan dari Bandung ke Makassar, mereka masih harus menyambung perjalanan darat selama kurang lebih tiga jam untuk sampai di Parepare.
Mengantisipasi kelelahan pemain, pelatih kepala Bojan Hodak merancang strategi logistik yang matang dengan memberangkatkan tim lebih awal, yakni sejak Jumat 15 Mei 2026.
“Kami selalu pergi dua hari sebelum pertandingan. Kami menginap satu malam di Makassar, dan pada pagi hari kedua barulah kami bertolak menuju Parepare,” ujar Hodak sebelum keberangkatan tim.
