GARUT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, mengungkapkan terkait status bencana hidrometeorologi basah sudah berakhir pada 30 April 2026.
Kalak BPBD Garut, Aah Anwar Saefulloh, mengatakan bahwa sesuai dari BMKG memang hidrometeorologi basah sudah berakhir, namun saat ini memasuki status hidrometeorologi kering.
“Jadi sekarang sudah ada siaga darurat Hidrometeorologi kering ya, dengan dampak dari siklus siklon tropis narelle,” katanya.
Baca Juga:Truk Toronton Patah As di Kadungora Garut, Lalu Lintas Lebak Jero Sempat LumpuhTunjangan Wabup Garut Dialihkan, Prioritaskan Kesehatan dan Pendidikan Perempuan
Ia menyebutkan, status hidrometeorologi basah ini tidak akan diperpanjang, karena sudah memasuki status hidrometeorologi kering.
“Oh enggak, karena kan sudah ada dari BMKG masalah hidrometeorologi kering, sekarang kita persiapan karena bakal kemarau panjang,” sebutnya.
Pada status Hidrometeorologi kering, BPBD mengimbau, untuk menjaga sumber air, menjaga lingkungan, dilarang ada pembakaran lahan, dan penebangab pohon yang masif.
“Jangan sampai ada pembakaran lahan, jangan sampai ada penambangan pohon-pohon yang masif yang tidak perlu karena sekarang pohon itu perlu sangat dibutuhkan untuk menyerapkan air, menahan air dari permukaan,” tambahnya.
Ia menambahkan, pada musim kemarau ini yang sering diusulkan untuk menambah suplai air bersih biasanya di Kecamatan Cigedug.
“Biasanya kalau tiap tahun manakala itu adalah Cigedug. Kalau sumber air sungai ada, tapi sumber air bersih biasanya Cigedug, kita yang paling awal mengusulkan untuk disuplai air bersih itu Cigedug,” pungkasnya. (Rizka)
