GARUT – Target investasi Garut pada tahun 2026 mencapai Rp 2,44 Triliun, angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni sebesar Rp2,40 Triliun.
Dari target tersebut, pembangunan pusat perbelanjaan atau mal baru di Garut masih belum menjadi prioritas dalam waktu dekat ini.
Pemerintah daerah menilai kebutuhan fasilitas tersebut sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi serta minat investor yang mempertimbangkan aspek keuntungan bisnis.
Baca Juga:Seleksi Sekda Garut Segera Dibuka, Wabup Tekankan Sosok Aktif dan TenangLegenda Sepakbola Persib dan Timnas Indonesia Nahkodai Garut di Ajang Porprov Jabar 2026
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Garut, Budi Gan Gan, menyampaikan, bahwa investor akan melakukan kajian mendalam, termasuk menghitung potensi pasar serta jangka waktu pengembalian modal.
“Kalau investor datang ke Garut untuk bangun mal, pasti dihitung dulu, laku atau tidak. Mereka punya perhitungan matang, termasuk berapa tahun balik modalnya,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini fasilitas pusat perbelanjaan atau mal di Garut masih tergolong mencukupi. “Saya rasa untuk saat ini mal masih cukup, tapi tidak tahu kalau misalkan nanti saat ekonomi kita tumbuh diatas misalnya 7 persen,” ucapnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Garut justru lebih mendorong investasi di sektor pariwisata, khususnya pembangunan hotel berbintang.
Hal ini dinilai lebih mendesak mengingat tingginya wisatawan yang membutuhkan hotel, terutama pada akhir pekan.
“Kalau dilihat, setiap weekend hotel berbintang di Garut itu penuh. Wisatawan biasanya mencari hotel dengan standar yang jelas, berbeda dengan penginapan biasa,” katanya.
Budi Gan Gan mengungkapkan, saat ini sudah ada beberapa rencana investasi hotel yang masuk tahap ekspose, di antaranya hotel Harris, hotel di kawasan Sabda Alam, serta hotel di lokasi eks Gran Kamojang.
Baca Juga:Pemekaran DOB Gatra dan Garsel Masih Tertahan Moratorium Pemerintah PusatPolisi Cilik TK Bayangkari 23 Garut Ukir Prestasi, Turut Meriahkan GPBG
Ia juga menjelaskan bahwa investor cenderung memilih pembangunan hotel dengan klasifikasi bintang tiga dibandingkan bintang lima.
“Kan investor itu berhitung, kalau bintang 3 bisa balik modal 2 sampai 3 tahun, kalau bintang 5 bisa sampai 10 tahun, mereka memilih yang cepat balik modal,” ungkapnya.
Selain itu, ia menegaskan, ketersediaan fasilitas hotel yang memadai juga sangat penting untuk menjaga posisi Garut sebagai daerah tujuan wisata.
Degan begitu, pihaknya menambahkan bahwa pembagunan hotel berbintang dinilai lebih dibutuhkan daripada pembangunan pusat perbelanjaan.
