Pertanyaannya, pelan dan meyakinkan. “Beb, obat nyamuk itu ya di bakar atau dioles, apa memang benar ada yang diseduh? Dengan nada nyèrèntèng, sang istri menjawab dengan sedikit teriak, “Ferguzo bukan begitu konsepnya”.
Lantas sang istri nyerocos. Bahwasanya obat nyamuk seduh itu memang ada. Caranya, nyamuknya satu-satu ditèwakan dan kemudian diberi racun dengan disuapin oleh Ferguzo satu-satu pula.
Diteureuy tah obat teh oleh nyamuknya. Intinya, dengan nada sedikit kesal Marshanda mengatakan bahwasanya diminumkan obatnya satu sendok satu sendok sama ayah ke nyamuknya.
Baca Juga:Bupati Garut ajak Jajaran MUI Perkuat Komunikasi dan Berkolaborasi Lintas Sektor4.400 Polis Asuransi Petani Disalurkan, Bupati Garut Tekankan Pentingnya Jaminan Risiko
Laksamanakan! Suara lantang Ferguzo kepada istrinya. Sebuah keberterimaan perintah istri yang tidak boleh ditolak. Padahal seharusnya, laksanakan. Bukan laksamanakan. Begitulah profil ketakutan berlebih Ferguzo.
Sepanjang jalan Ferguzo berfikir. Kenapa di dunia ini harus ada obat nyamuk seduh. Apakah nyamuknya manis seperti gula, sehingga jadinya harus diseduh.
Kedepan tidak mustahil ada obat nyamuk yang digoreng. Atau obat nyamuk tablet atau puyer. Padahal, otak kreatif Ferguzo terus saja mengembara.
Ia bahkan merancang adanya obat nyamuk yang paling efektif itu justru dengan batu baterai. Caranya lepar batu baterai itu tepat mengenai tarang nyamuk tersebut. Insya Allah, mati. Sederhana bukan, dan tidak perlu diseduh. (*)
