Lebaran, Antara Agama dan Mode

istimewa
DR. Moch Ilham Anshory
0 Komentar

Kedua, terjadinya penumpukkan orang pada satu waktu. Orang-orang yang mengikuti mode tidak akan membeli barang pada saat sebelum puasa. Ketika seseorang membeli baju sebelum bulan puasa, maka pada saat lebaran pakaian yang dikenakannya tidak lagi trendi. Ketika tidak trendi ia menjadi tidak percaya diri karena tidak gaul.

Penumpukan orang berpotensi meningkatkan angka kriminalitas. Masih ingat dengan kalimat pesan Bang Napi “Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi ada kesempatan”.

Ketika terjadi penumpukan orang, membawa barang-barang bernilai ekonomi (dompet, mas, telepon genggam dan lain-lain), maka pelaku kriminalitas beraksi.

Baca Juga:Ramadan Madani, PNM Garut Ajak Karyawan Tingkatkan Literasi HIV/AIDSPNM Garut Salurkan Santunan Ramadan untuk Anak Panti dan Nasabah Terdampak Longsor

Sebagai peneliti budaya mari kita renungkan kembali esensi sebuah ibadah dan fenomena yang ada. Esensi ibadah puasa di bulan ramadhan adalah menjadi manusia yang bertaqwa.

Rasul memakai baju terbaiknya pada dua hari raya. Baju terbaik tidak harus baju baru. Jika memang kita ingin mengenakan baju baru tidak harus mengikuti mode.

Mengikuti mode menghilangkan rasa indah alamiah masing-masing individu dan barang yang kita beli harganya menjadi meningkat.

Selamat merayakan hari raya Idul Fitri 1447 H. Semoga kualitas keimanan & ketaqwaan kita meningkat. Semoga lebaran tahun ini dirayakan dengan penuh kebahagiaan. Aamiin. Cag! (*)

0 Komentar