Berdiri di Atas 18 Ton Plastik Daur Ulang, SDN 3 Sukanegla Garut Hadirkan Ruang Belajar Baru bagi Siswa

Radar Garut
Dua ruang kelas SDN 3 Sukanegla yang dibangun menggunakan sampah plastik residu. (Rizki Peratami/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT — Indonesia mencatat sejarah baru dalam pengelolaan sampah dan infrastruktur pendidikan. Yayasan Bakti Barito bersama para mitra meresmikan gedung sekolah baru di SDN 3 Sukanegla, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Rabu (30/9/2026).

Bangunan ini menjadi sekolah pertama di Indonesia yang didirikan menggunakan material komposit daur ulang dari sampah plastik bernilai rendah (low-value plastic).

​Inisiatif ini lahir di tengah tantangan pengelolaan limbah nasional. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), sampah plastik menyumbang sekitar 17% hingga 20% dari total timbulan sampah nasional, dengan lebih dari separuhnya berakhir di TPA.

Baca Juga:Viral, Warga Garut Keluhkan Berat Beras Bantuan Tak Sesuai Takaran, Diduga Ada Bekas CoblosanMemo Hermawan Minta Pemerintah Segera Lepas Lahan Translokasi di Caringin

Lewat kolaborasi ini, sebanyak 18 ton sampah plastik residu seperti bungkus mi instan, kemasan sachet, hingga plastik multilayer yang tidak bernilai bagi pemulung disulap menjadi material bangunan ramah lingkungan.

​Solusi atas Kebutuhan Kelas dan Bencana

​Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian Purbasari, menjelaskan bahwa pembangunan gedung baru ini didasari oleh kebutuhan mendesak sekolah yang mengalami lonjakan jumlah siswa hingga melebihi kapasitas kelas yang ada.

​”Kita melihat kebutuhan dari sekolah ini untuk menyediakan ruang kelas baru karena siswanya sudah menumpuk, tidak bisa ditampung lagi di kelas yang saat ini ada,” ujar Dian.

​Sebelumnya, pemerintah setempat sempat merencanakan pembangunan ruang kelas tambahan. Namun, rencana tersebut beberapa kali terkendala akibat bencana gempa bumi sehingga proyek tak kunjung terlaksana.

​Melalui program Green Guardians, Bakti Barito menggandeng mitra teknologi Biru Langit Utama Indonesia (BLU), Kitabisa ORG, dan Star Energy Geothermal untuk mewujudkan pilot project ini.

Bangunan seluas 190 meter persegi ini mencakup dua ruang kelas baru dan dua unit toilet.

Dian mengungkapkan bahwa sekitar 85 persen material yang digunakan merupakan hasil olahan sampah plastik bernilai rendah yang diolah menjadi Eco Brick, Eco Pave, Eco Pipe, dan Eco Panel.

Baca Juga:Memo Hermawan Minta Pemerintah Segera Lepas Lahan Translokasi di CaringinPVMBG Cek Kemunculan Blue Fire di Papandayan, Dipastikan Tak Ada Peningkatan Aktivitas Vulkanik

​Sebelum diaplikasikan, material daur ulang tersebut diuji secara ketat untuk memastikan kekuatan dan kelayakannya.

“Sebelum kita membangun, tentunya kita melakukan uji-uji laboratorium. Kita bekerja sama dengan Universitas Garut dan juga lab dari Dinas PUPR untuk mendapatkan izin membangun sekolah ini,” jelas Dian.

0 Komentar