Berdiri di Atas 18 Ton Plastik Daur Ulang, SDN 3 Sukanegla Garut Hadirkan Ruang Belajar Baru bagi Siswa

Radar Garut
Dua ruang kelas SDN 3 Sukanegla yang dibangun menggunakan sampah plastik residu. (Rizki Peratami/Radar Garut)
0 Komentar

​Dian menambahkan bahwa inovasi ini dirancang agar biaya produksinya setara dengan material konvensional sehingga dapat diakses dan diterapkan oleh masyarakat secara luas ke depannya.

Selain fungsi fisik, gedung ini menjadi sarana edukasi langsung bagi para siswa.

“Anak-anak bisa melihat bahwa sekolahnya itu dari sampah. Artinya, sampah itu sesuatu yang bernilai,” tegasnya.

Baca Juga:Viral, Warga Garut Keluhkan Berat Beras Bantuan Tak Sesuai Takaran, Diduga Ada Bekas CoblosanMemo Hermawan Minta Pemerintah Segera Lepas Lahan Translokasi di Caringin

​Mengintegrasikan Pendidikan Lingkungan

​Direktur Eksekutif Bakti Barito, Fifi Pangestu, menyampaikan bahwa proyek ini selaras dengan upaya membangun kesadaran iklim sejak dini serta mendukung pencapaian target pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 untuk mengelola 100% sampah pada tahun 2028.

​“Kesadaran lingkungan diharapkan dapat ditanam sejak dini dengan mengintegrasikan materi perubahan iklim dan lingkungan hidup ke dalam kurikulum. Melalui aktivitas sehari-hari, seperti pemilahan sampah, penghematan energi dan air, serta pengenalan pohon endemik, para siswa diajarkan memahami dan menerapkan upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,” ujar Fifi Pangestu.

Ia menambahkan, program Green Guardians bertujuan mendampingi sekolah agar meraih predikat Sekolah Adiwiyata.

​Dukungan masyarakat juga menjadi kunci sukses keberhasilan pembangunan ini. Kepala Sustainability Kitabisa, Andrew Deni Yonathan, mengapresiasi partisipasi publik dalam penggalangan dana program ini.

​”Kami sangat bangga dapat mendukung inisiatif luar biasa ini dan menjembatani kebaikan masyarakat. Semangat gotong royong dan donasi publik yang terkumpul melalui platform kami membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sangat peduli terhadap masa depan pendidikan dan kelestarian lingkungan,” tutur Andrew.

​Sinergi Regional dan Potensi Ekonomi Sirkular

​Acara peresmian ini turut dihadiri oleh Duta Besar Republik Singapura untuk Republik Indonesia, Y.M. Kwok Fook Seng, beserta istri dan didampingi istri Dubes Belanda, Yvonne Gerittsen.

Dalam sambutannya, Kwok Fook Seng menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi yang menyoroti sinergi nyata antara Singapura dan Indonesia dalam penerapan ekonomi sirkular.

Baca Juga:Memo Hermawan Minta Pemerintah Segera Lepas Lahan Translokasi di CaringinPVMBG Cek Kemunculan Blue Fire di Papandayan, Dipastikan Tak Ada Peningkatan Aktivitas Vulkanik

​”Proyek ini ada dimensi Singapura–Indonesia yang mencerminkan hubungan erat antara dua negara kita. BLU mempunyai akar di Singapura, tetapi ‘lapangan kerjanya’ ada di Indonesia. BLU sendiri memfokuskan diri pada difficult residual plastics jenis plastik yang justru sering tertinggal oleh sistem daur ulang konvensional,” ungkap Kwok Fook Seng.

0 Komentar