Perhutani Garut sebut Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama Karhutla

Wakil Administratur Perum Perhutani KPH Kabupaten Garut, Usu Juarsa. (Rizka/Radar Garut)
Wakil Administratur Perum Perhutani KPH Kabupaten Garut, Usu Juarsa. (Rizka/Radar Garut)
0 Komentar

Perhutani juga memanfaatkan Sipongi untuk memonitor indikasi titik api. Sistem tersebut membantu petugas memperoleh gambaran awal lokasi yang berpotensi mengalami kebakaran sebelum laporan masyarakat diterima.

“Update terus, jadi di lokasi mana, titik mana yang ada percikan api pasti terpantau di Sipongi ini. Jadi sebelum ada laporan dari warga juga kami sudah dapat gambaran, ‘oh ini ada titik kebakaran’, langsung kami pantau, langsung kami telepon petugas masing-masing wilayah untuk mengecek, memastikan apakah benar ada titik kebakaran atau tidak,” jelas Usu.

Berdasarkan pemantauan Perhutani, sejumlah wilayah yang memiliki kejadian karhutla di antaranya Cibatu, Malangbong, Cikajang, Sumadra, Pamegatan, Pameungpeuk hingga Cikelet.

Baca Juga:7 Pelajar jadi ABH, Polisi Sebut Kasus di Sukawening Bukan Sekedar PerundunganRutan Garut Gelar Sholat Istisqa, Karutan: Ikhtiar Spiritual untuk Keselamatan dan Keberkahan Indonesia

“Jadi beberapa di antaranya di selatan dan di utara ini ada beberapa tapi tidak terlalu banyak, kurang lebih hampir delapan titik, tapi alhamdulillah semua sudah tertangani,” katanya.

Terkait dampak kebakaran terhadap vegetasi, Usu mengatakan sebagian pohon di lokasi terdampak masih dalam kondisi aman dan tidak sampai mati.

Ia memperkirakan ekosistem di kawasan tersebut dapat kembali pulih secara alami seiring berjalannya waktu.

“Cuma ekosistem nanti juga mungkin dalam berjalannya kekeringan bisa bertumbuh dengan lancar lagi,” tambahnya.

Dari sisi kesiapan peralatan, Perhutani mengaku telah memiliki sejumlah sarana penanganan kebakaran, mulai dari alat pelindung diri, tangki pemadaman hingga peralatan pemadam lainnya.

“Selain APD ada juga kami punya tangki pemadaman kebakaran, dan ada juga kompan untuk alat pemadaman. Kalau alat kami sudah komplit,” katanya.

Perhutani mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di sekitar kawasan hutan pada kondisi cuaca panas dan kering.

Baca Juga:PNM Gelar PKU Akbar 2026 di Sumedang, Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas dan Perkuat Kolaborasi DaerahPGE Area Kamojang Raih Dua Penghargaan EBTKE 2026, Inovasi Panas Bumi Dorong Green Jobs dan Ekonomi Lokal

Masyarakat diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun melakukan pembakaran saat membuka lahan.

Menurut Usu, sejumlah kebakaran berpotensi bermula dari lahan milik masyarakat sebelum kemudian merambat ke kawasan hutan.

“Terus tadi membuka lahan dan membakar lahan-lahan yang bukaan itu biasanya terjadi di tanah milik, awalnya dari tanah milik menyebar ke kawasan, itu biasanya yang terjadi sementara ini,” imbaunya.

0 Komentar