RADARGARUT– Senin, 7 September 2026, menjadi hari yang penuh harapan bagi warga Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut.
Di tengah musim kemarau panjang yang membuat sumber air bersih semakin langka, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut bersama Dinas Sosial Kabupaten Garut turun langsung ke lapangan.
Mereka melaksanakan pendistribusian air bersih sebanyak 15.000 liter kepada masyarakat yang sudah lama merasakan kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.Kegiatan ini bukan sekadar bantuan rutin.
Baca Juga:Waspada! Cuaca Garut Hari Ini Berawan hingga Hujan Ringan, Suhu Dingin di Dataran TinggiGarut Darurat Kebakaran! Dua Kasus Kebakaran Terjadi Dalam Sehari
Ia lahir dari permintaan nyata masyarakat yang disuarakan melalui Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban (Kasi Trantib) Kecamatan Bayongbong serta BPBD Provinsi Jawa Barat. Suara warga yang kesulitan mendapatkan air untuk minum, memasak, dan kebutuhan sehari-hari akhirnya didengar dan ditindaklanjuti dengan cepat.
Respons ini menunjukkan bahwa mekanisme koordinasi antarlembaga di Garut masih berjalan efektif ketika warga benar-benar membutuhkan.
Pendistribusian dilakukan di dua titik strategis. Lokasi pertama adalah Kampung Sindangsari RT 01–04 RW 09, sementara lokasi kedua berada di Kampung Pamalayan RT 01–02 RW 01. Kedua wilayah ini merupakan area yang paling merasakan dampak kekeringan.
Total penerima manfaat mencapai 305 Kepala Keluarga atau sekitar 915 jiwa. Angka ini menggambarkan betapa luasnya dampak kekeringan di wilayah tersebut.
Dari total 15.000 liter air bersih yang dibagikan, sebanyak 10.000 liter disediakan oleh BPBD Kabupaten Garut, sedangkan 5.000 liter sisanya berasal dari Dinas Sosial Kabupaten Garut. Sumber air diambil dari PDAM dan Koperasi Unit Desa (KUD) Bayongbong, sehingga kualitas air yang diterima warga terjamin.
Kekeringan bukan hanya soal air yang mengering di sumur atau sungai. Bagi warga Desa Pamalayan, dampaknya merembet ke berbagai aspek kehidupan. Anak-anak kesulitan mendapatkan air untuk mandi sebelum berangkat sekolah. Ibu-ibu rumah tangga harus berpikir keras bagaimana mengatur stok air untuk memasak dan mencuci.
Lansia dan anak balita menjadi kelompok paling rentan karena kebutuhan air bersih sangat menentukan kesehatan mereka. Dalam situasi seperti ini, bantuan air bersih bukan sekadar “bantuan logistik”, melainkan bentuk kehadiran negara di tingkat paling bawah.
Baca Juga:Cegah ISPA Saat Hujan Abu Vulkanik: Panduan Lengkap Lindungi Saluran Pernapasan AndaHarga Masker Melonjak 10 Kali Lipat Usai Erupsi Anak Krakatau, Kemenkes Ancam Tindak Tegas
BPBD Kabupaten Garut menegaskan komitmennya untuk terus hadir dan bergerak. Mereka menyadari bahwa penanganan kekeringan tidak bisa dilakukan secara sepihak. Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan seluruh unsur terkait menjadi kunci agar bantuan bisa sampai tepat sasaran, tepat waktu, dan berkelanjutan.
