GARUT – Penerapan jam masuk sekolah pukul 06.30 di SMPN 2 Samarang, Kabupaten Garut, masih menjadi tantangan bagi sebagian siswa dan guru, terutama mereka yang tinggal jauh dari sekolah serta mengandalkan transportasi umum. Meski demikian, sejumlah guru menilai kebijakan tersebut cukup efektif untuk membiasakan siswa bangun lebih pagi, Rabu ,24 Agustus 2026.
Wakasek Kesiswaan SMPN 2 Samarang, Tarman Permana, mengatakan kebijakan masuk pukul 06.30 diterapkan setelah adanya edaran dari Dinas Pendidikan pada 3 Agustus 2026. Sebelum diterapkan, pihak sekolah sempat melakukan jajak pendapat kepada siswa dan orang tua.
“Jadi kami sekolah mengeluarkan surat untuk bersedia dan tidaknya. Ternyata kebanyakan tidak siap, hampir 60 persen,” ujar Tarman saat ditemui di SMPN 2 Samarang.
Baca Juga:Buntut Musibah Karangpapak, Garut Akan Perketat Mitigasi Wisata PesisirPemkab Garut Ajukan Beberapa Ruas Jalan Kabupaten Menjadi Provinsi, Jalan Ahmad Yani Tidak Termasuk
Menurutnya, ketidaksiapan tersebut salah satunya disebabkan jarak rumah siswa yang cukup jauh, terutama mereka yang berasal dari wilayah Kamojang dan Parakan. Selain persoalan jarak, keterbatasan transportasi pada pagi hari juga menjadi kendala.
Tarman menyebut, siswa dari Kamojang bahkan harus bangun sekitar pukul 03.30 agar dapat mengejar kendaraan sekitar pukul 05.00. Mereka juga harus bersaing menggunakan kendaraan umum dengan masyarakat yang hendak beraktivitas ke pasar.
“Harus berebutan, harus sepagi mungkin supaya anak-anak bisa menempati kendaraan itu sudah dikuasai oleh anak sebelum oleh yang akan ke pasar,” katanya.
Meski demikian, sekolah terus melakukan penyesuaian dengan mengimbau siswa, khususnya yang tinggal jauh, untuk mengatur waktu istirahat. Siswa dianjurkan sudah tidur sekitar pukul 21.00 agar dapat bangun lebih pagi dan tidak terlambat.
Namun, dari sisi kedisiplinan, Tarman menilai perubahan yang terjadi belum terlalu signifikan. Menurutnya, keterlambatan masih ditemukan meskipun jam masuk sekolah dimajukan dari pukul 07.00 menjadi 06.30.
“Untuk kedisiplinan memang sejauh yang dipantau oleh sekolah, mau jam 07.00 masuk, mau jam 06.30 tetap saja ada yang kesiangan. Jadi kedisiplinan siswa itu tidak terlalu terlihat begitu signifikan,” jelasnya.
Berbeda dengan penilaian tersebut, Guru PAI SMPN 2 Samarang, Duden Abdul Rohman, menilai masuk lebih pagi justru cukup efektif dalam membangun kebiasaan siswa. Menurut Duden, siswa mulai terbiasa bangun lebih pagi setelah melaksanakan salat Subuh dan kemudian berangkat ke sekolah.
