Dengan masa tinggal yang lebih panjang, wisatawan berpeluang mengunjungi lebih banyak destinasi dan menginap di Garut. Hal tersebut diharapkan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi pengelola wisata, hotel, rumah makan, pelaku UMKM, dan masyarakat sekitar.
Cangkuang Hadapi Persoalan Kekeringan
Selain persoalan jumlah pengunjung, kawasan Candi Cangkuang juga menghadapi tantangan pada kondisi perairannya. Situ Cangkuang disebut mengalami penyusutan debit air ketika musim kemarau, serupa dengan kondisi yang terjadi di Situ Bagendit.
Beni menerangkan, danau tersebut bergantung pada pasokan air dari sejumlah sumber di sekitarnya. Ketika distribusi air berkurang, permukaan danau ikut menyusut.
Baca Juga:Sepak Bola Putri U-18 Garut Jadi Runner-up Hydroplus Soccer League All StarTiga Kepala Desa Hasil PAW di Garut Dilantik, 17 Desa Kini Punya Kades Definitif
“Karena dulunya memang berupa cekungan, kondisi danau sangat bergantung pada suplai dari beberapa sumber air yang masuk. Kalau pasokannya berkurang, risikonya debit air ikut menyusut,” terangnya.
Penyusutan air turut memicu pertumbuhan tanaman liar di area danau. Disparbud dan pengelola telah melakukan pembersihan, tetapi pertumbuhan gulma dinilai berlangsung lebih cepat dibandingkan kemampuan penanganan.
“Gulma tumbuhnya luar biasa. Kita sudah berupaya membersihkan di sejumlah bagian, tetapi kecepatan pertumbuhannya lebih tinggi dibandingkan proses pembersihan yang dilakukan,” tambahnya.
Beberapa jenis tanaman air yang kembali ditemukan antara lain mamangkokan, eceng gondok, dan teratai. Kemunculan tanaman tersebut menjadi pekerjaan tambahan bagi pengelola karena harus dibersihkan secara berkala agar tidak mengganggu kondisi perairan dan daya tarik wisata.
“Sekarang muncul lagi beberapa jenis tanaman, seperti mamangkokan, eceng gondok, dan teratai. Ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi kita,” pungkasnya. (*)
