Lapisan terluar atmosfer Matahari, yaitu korona, yang biasanya tak terlihat akan muncul sebagai mahkota cahaya keperakan yang mempesona. Hewan-hewan di sekitar area juga diprediksi akan bingung dan mengubah perilaku seolah malam telah tiba.
Kelly Korreck, ilmuwan program gerhana NASA, menjelaskan keunikan fenomena ini.
“Bumi adalah satu-satunya planet yang kita ketahui mengalami jenis gerhana matahari seperti ini,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kombinasi ukuran dan jarak Bulan terhadap Matahari menciptakan kesempurnaan yang istimewa. Bagi banyak orang, momen totalitas membangkitkan rasa kagum sekaligus sedikit kecemasan karena perubahan cahaya yang tiba-tiba. Namun, setelah menyaksikannya, kebanyakan orang ingin mengulangi pengalaman tersebut.
Baca Juga:Pemkab Garut Ajak Masyarakat Nobar Semifinal FIFA World Cup 2026 Prancis vs SpanyolHarga Emas Pegadaian Hari Ini Turun Serentak: Peluang Emas Murah atau Sinyal Pasar yang Harus Diwaspadai?
Persiapan dan Keselamatan
Bagi yang berencana menyaksikan langsung, keselamatan adalah prioritas utama. Kacamata gerhana khusus yang memenuhi standar internasional ISO 12312-2 wajib digunakan selama fase parsial (sebelum dan sesudah totalitas).
Kacamata ini ribuan kali lebih gelap daripada kacamata hitam biasa dan mampu melindungi mata dari radiasi ultraviolet dan infrared yang berbahaya. Jangan pernah melihat Matahari langsung tanpa perlindungan yang tepat.
Fenomena ini juga membawa makna mendalam bagi umat Islam. Melihat gerhana di Tanah Suci dapat menjadi pengingat akan kebesaran Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis tentang gerhana sebagai tanda kekuasaan Tuhan. Banyak ahli astronomi Muslim sejak zaman dahulu telah mempelajari fenomena ini dengan teliti.(*)
