GARUT – Ditengah perekonomian yang sangat sulit, kini terlihat seorang kakek yang berdiam menunggu penumpang Cator (Becak Motor) di Jalan Merdeka, dekat pasar Tradisional Ciawitali Garut.
Aan (73), seorang kakek berasal dari Kelurahan Pataruman, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut.
Ia berjuang mencari nafkah dengan menarik cator sudah dari 3 tahun lalu, namun jauh sebelumnya Aan dari tahun 2000 an sudah menarik becak gowes.
Baca Juga:Wisatawan Keluhkan Toilet dan Duduk Harus Bayar di Situ Bagendit, Disparbud Garut Panggil UPT untuk EvaluasiDishub Garut Kejar Target PAD Parkir Rp1,3 Miliar, Capaian Baru 37 Persen
Namun, langkahnya terhalang oleh usia yang kini sudah sepuh, kaki sudah tidak kuat untuk mengayuh becak sehingga ia berganti ke Becak Motor.
“Saya hampir 3 tahun kalau cator mah, sebelumnya nya mah di gowes dari tahun 2000 an, cuman sudah tidak kuat kaki nya, karena nanjak pulangnya jadi diganti cator,” ujarnya saat ditemui di Jalan Merdeka, dekat Pasar Ciawitali Garut, Jumat, 10 Juli 2026.
Aan mengatakan, ia keluar rumah menarik cator dari pukul 06.00 pagi hingga 17.00 sore hari, ia menerapkan tarif hanya sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000, namun sering kali ditawar oleh para penumpang.
“Tarif nya mah sederhana tidak terlalu tinggi, kalau deket kaya ke Nusa indah 10 ribu, ke pengkolan 15 ribu, ada aja yang nawar mah kaya ke pasar jagal juga cuman 15 ribu aslinya mah 20 ribu an,” katanya.
Aan menyampaikan, penghasilan yang didapat hingga siang hari hanya mendapatkan kurang dari Rp40.000, berbeda ketika ramai bisa dapat hingga Rp100.000 ribu.
“Sekarang mah baru dapet 40 ribu kurang, kalau lagi rame mah Alhamdulillah kadang 100 ribu sampe sore, sepi mah kaya gini we 40 RB, pernah sampe sepi banget cuman dapet 15 ribu,” ucapnya.
Disisi lain, kata Aan, jaman sekarang kendaraan umum becak atau cator sangat susah, karena tergerus berkembangnya ojek online.
Baca Juga:Soal Peluang AHY di Pilpres, Anton: Kalau Tidak Presiden, Jadi Wakil PresidenAtlet Atletik Garut Lolos BK tapi Tak Masuk Daftar Porprov, Orang Tua Minta Transparansi
“Justru itu ada nya ojek online jadi susah sekarang mah, sebelum ada ojek online mah dulu dapet 200 ribu mah,” ungkap Aan.
Dengan begitu, kata Aan, ia harus tetap berjuang mencari nafkah untuk keluarga meskipun kondisinya selalu sepi penumpang.
“Sekarang kalau diam dirumah tidak ada pendapatan, sekarang lagi banyak biayaan untuk anak istri,” tutupnya. (*)
