Alfamart Beri Sinyal Kenaikan Barang Retail, Imbas Rupiah Lesu

(Istimewa)
Alfamart beri sinyal kenaikan barang retail imbas dari rupiah melemah (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) yang kini menyentuh level psikologis Rp18.000 per USD tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar keuangan, tetapi juga mulai merembet ke sektor ritel sehari-hari.

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart), salah satu jaringan minimarket terbesar di Indonesia, memberikan sinyal kuat bahwa kenaikan harga produk retail bisa segera terjadi.

Corporate Secretary Alfamart, Tomin Widian, di Tangerang pada Jumat 5 Juni 2026, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima informasi dari sejumlah supplier mengenai rencana penyesuaian harga.

Baca Juga:6 Jenis Kopi Produksi Garut yang MenduniaNegara Ungkap Alasan Nanik S. Deyang Dipilih Jadi Kepala BGN Baru

“Kondisi pasar saat ini tidak lebih baik dibandingkan tahun lalu. Kami mendapat informasi dari beberapa supplier mengenai kemungkinan kenaikan harga. Di tengah daya beli masyarakat yang relatif tidak kuat, harga barang kemungkinan besar tidak bisa bertahan,” ujar Tomin.

Menurut Tomin, faktor utama di balik tekanan ini adalah terus melemahnya nilai tukar Rupiah. Banyak supplier yang mengimpor bahan baku atau barang jadi dalam mata uang dolar merasa kesulitan mempertahankan harga lama.

“Exchange rate USD yang terus membebani Rupiah membuat supplier tidak mampu lagi menahan harga,” tambahnya.

Dampak Ekonomi yang Lebih Luas

Pelemahan Rupiah ke level Rp18.000 ini bukanlah fenomena baru. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan bahwa penyebab utamanya adalah eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah.

Konflik tersebut menghambat prospek perdamaian, mendorong harga minyak dunia tetap tinggi, dan meningkatkan risiko inflasi global. Akibatnya, terjadi arus dana keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Selain itu, kebutuhan domestik yang tinggi akibat repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN) turut memperberat tekanan terhadap Rupiah.

Bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang menjadi konsumen utama Alfamart, sinyal kenaikan harga ini tentu menjadi kabar kurang mengenakkan.

Baca Juga:Anggaran KPK & Kejagung Ditambah untuk Kawal Ketat Program MBGTimnas Garuda Siap Hadapi Oman Hari Ini: Detail Lengkap Pertandingan dan Tempat Siaran Pertandingan

Produk-produk sehari-hari seperti sembako, susu, mie instan, sabun, dan kebutuhan rumah tangga lainnya berpotensi naik. Padahal, daya beli masyarakat pasca-pandemi dan di tengah berbagai tekanan ekonomi belum sepenuhnya pulih.

Strategi Alfamart Hadapi Tantangan

0 Komentar