RADARGARUT– Banyak orang merasa heran ketika suhu udara terasa sangat dingin di malam hingga pagi hari, padahal sedang puncak musim kemarau. Fenomena ini dikenal masyarakat Jawa sebagai “bediding”, istilah lokal yang kini semakin populer di seluruh Indonesia.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena bediding merupakan hal yang lumrah terjadi setiap tahun pada periode Juli hingga September, terutama di wilayah selatan Khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Bediding bukanlah cuaca ekstrem yang berbahaya, melainkan karakteristik musiman yang khas di Indonesia.
Baca Juga:Ini Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama Juni 2026Harga Emas Antam Hari Ini Ambruk Signifikan, Ini Detailnya
Kata “bediding” berasal dari bahasa Jawa “mbedhidhing” yang artinya terasa dingin atau menggigil. Fenomena ini biasanya ditandai dengan penurunan suhu udara yang cukup signifikan, terutama pada malam hingga dini hari.
Di beberapa daerah dataran tinggi, suhu bisa turun hingga 16 sampai 20 derajat Celsius, membuat banyak orang harus menggunakan jaket tebal atau selimut ekstra meski di bulan-bulan yang biasanya dianggap panas.
Penyebab Utama Fenomena Bediding
Ada beberapa faktor ilmiah yang menyebabkan fenomena ini:
Angin Monsun Australia
Pada musim kemarau, angin monsun dari Australia bertiup menuju Asia melewati Indonesia.
Angin ini bersifat kering dan membawa massa udara yang relatif lebih dingin setelah melewati Samudera Hindia yang suhu permukaannya lebih rendah. Akibatnya, udara di Indonesia terasa lebih sejuk dan kering.
Langit Cerah dan Radiasi Balik
Musim kemarau ditandai dengan minimnya tutupan awan. Saat langit cerah, panas yang diserap bumi sepanjang hari langsung dilepaskan ke atmosfer pada malam hari (radiasi balik). Proses ini menyebabkan suhu permukaan turun drastis, terutama di pagi hari.
Pengaruh Badai Tropis
Keberadaan badai tropis di utara Indonesia atau timur Filipina dapat memperkuat aliran angin kering dari Australia, sehingga memperparah sensasi dingin di wilayah Jawa dan sekitarnya.
Baca Juga:Jadwal Polytron Indonesia Open 2026: Cek Link Streaming Gratis Berikut dan Siaran TV LangsungnyaKA Cikuray Terus Tumbuh Jadi Moda Transportasi Favorit: Hubungkan Garut dengan Jakarta
Meski sering dikaitkan dengan fenomena Aphelion (posisi Bumi terjauh dari Matahari), BMKG menegaskan bahwa Aphelion bukanlah penyebab utama.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa bediding adalah sifat musiman alami yang memang terjadi bersamaan dengan Aphelion, bukan akibat langsung darinya.
