Namun, kata dia, sesuai fakta dilapangan yang diketahui PGRI bahwa sesungguhnya tingkat pendidikan biasanya lebih tinggi di wilayah pelosok Garut.
Sebagai contoh, data dari Bps dan pengalamannya yang sempat mengajar dikelas jauh seperti di Bungbulang, Caringin, Pakenjeng, dan Cisompet, justru antusias bersekolah itu tinggi di selatan.
“Di kelas Bungbulang, kelas Caringin, kelas Pakenjeng, kelas di Cisompet, kelas manapun itu antusiasme berpendidikan tinggi itu justru di selatan. Mereka kan bisa gabung dalam satu kelas jauh, kan sekali angkatan itu bisa 50-60 orang,” lanjutnya.
Baca Juga:GIKF 2026 Digelar Di Cisurupan Non APBD, Disparbud Garut Gencar Cari Bantuan AnggaranFaktor Ekonomi dan Akses Pendidikan Picu Ribuan Anak Putus Sekolah, Disdik Garut Lakukan Verifikasi Data
Selain itu, kata Encep, diwilayah perkotaan Garut juga tidak bisa dipungkiri anak putus sekolah pun tetap ada, meskipun kebanyakan di wilayah selatan.
“Jadi tinggal kita nanti memilah di level mana nanti angka putus sekolah itu. Kalau angka putus sekolah di tingkat dasar barangkali di pelosok, karena itu kan salah satu kendalanya mungkin faktor ekonomi dan sebagainya,” ungkapnya.
Sehingga, ia berharap agar seluruh elemen masyarakat, pendidikan, organisasi pendidikan apapun agar mendukung program Bupati untuk menekan angja anak putus sekolah.
“Mari kita sukseskan saja program Pak Bupati kan demikian hebat ya sekarang. Apapun di-push, jadi dorong untuk meningkatkan angka melanjutkan, mengurangi angka putus sekolah, dan sebagainya,” harapnya.
Meski begitu, Encep menegaskan bahwa tinggal tergantung kesadaran masyarakat saja terkait pendidikan, dikarenakan sosialisasi pasti sudah dilakukan, bahkan hingga biaya pendidikan pun Gratis.
“Mungkin saya pikir kalau sekarang kan mau apa lagi, pendidikan kan gratis, tinggal kesadaran, membangun kesadaran itu yang mungkin harus segera diintensifkan,” pungkasnya. (*)
