Meski warga desa tidak bertransaksi langsung dengan dolar, kenaikan kurs dolar AS berdampak tidak langsung melalui harga barang impor. Pupuk, bahan baku pangan seperti kedelai dan gandum, obat-obatan, hingga suku cadang mesin pertanian sebagian besar bergantung pada impor.
Akibatnya, inflasi bisa merembet ke harga kebutuhan pokok di pasar desa. Kritik serupa pernah muncul di masa lalu, termasuk saat krisis moneter 1998 di mana harga-harga melonjak meski masyarakat desa jarang menggunakan dolar secara langsung.
CELIOS (Center of Economic and Law Studies) bahkan sempat menantang Prabowo dengan tawaran “kuliah ekonomi gratis” untuk membahas isu ini lebih mendalam. Sementara itu, media sosial ramai dengan komentar beragam.
Baca Juga:Ekonom CELIOS Bantah Prabowo, Pelemahan Rupiah Dinilai Tetap Hantam Warga DesaPrabowo Tanggapi Rupiah Melemah: "Rakyat di Desa Enggak Pakai Dollar Kok!"
Ada yang mendukung pendekatan Prabowo yang santai dan optimistis, ada pula yang meminta pemerintah lebih serius menangani fundamental ekonomi seperti cadangan devisa, investasi asing, dan diversifikasi ekspor.
Reaksi hingga ke Malaysia ini menarik karena hubungan bilateral Indonesia-Malaysia yang selalu dinamis. Sebagai negara tetangga, isu ekonomi Indonesia sering menjadi perhatian di negeri Jiran.
Astro AWANI mungkin melihat peluang untuk menyoroti perbedaan perspektif kedua negara dalam menghadapi gejolak global. Di tengah ketegangan kurs, Prabowo juga kerap menyinggung ketahanan pangan nasional, di mana Indonesia justru menjadi penyuplai beras dan pupuk bagi negara-negara yang terdampak konflik Timur Tengah.
Pernyataan “rakyat desa tak pakai dolar” mungkin sederhana, tapi dampak ekonominya kompleks. Di tengah sorotan media Malaysia dan perdebatan domestik, hal ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan ekonomi memerlukan keseimbangan antara narasi yang menenangkan dan langkah konkret untuk memperkuat ketahanan nasional di era ketidakpastian global.(*)
