“Yang pasti itu juga disiplin pastilah menurun baik di siswa ataupun di guru. Nah kemudian sekolah tetap jalan tapi seperti motor tanpa lampu gitu, motor tanpa lampu tetap maju tapi penuh resiko gitu dampaknya,” jelasnya.
Lebih jauh, kata dia, jika kekosongan ini dibiarkan lama akan berpengaruh kepada segala aspek, dari mulai kualitas pendidikan, manajemen pembelajaran, inovasi.
“Kepemimpinan juga itu kan sangat berpengaruh. Kalau pucuk pimpinannya kosong, sulit berharap hasil maksimal,” ungkap Ma’mol.
Baca Juga:Damkar Sebut Kerugian Rp2 Miliar, Pemilik Toko Sempat Padamkan Api Berasal dari ThinnerToko Material di Garut Ludes Dilahap Si Jago Merah! Dua Mobil Ikut Terbakar Kerugian Capai Rp700 Juta
Sebagai dorongan kepada Pemkab Garut, kata Ma’mol, bahwa memang Direktorat Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan (KSPSTK) dan Kemendikdasmen memegang kendali tata kelola kepsek, maka harus dibangun komunikasi intens.
“Tentunya ini harus dibangun komunikasi yang intens sehingga proses ini bisa lebih cepat, kemudian proses seleksi juga dibuat lebih cepat, tapi tetap objektif dan transparan, dan tentunya juga mengoptimalkan guru-guru potensial yang sudah memenuhi syarat,” katanya.
Ia menegaskan, kekosongan kepsek ini jangan hanya bergantung kepada PLT, yang sifatnya sementara. “Karena sifatnya hanya sementara bukan solusi jangka panjang. Kalau boleh dikata PLT itu seperti ban serep, bisa dipakai tapi tidak untuk perjalanan jauh,” tegasnya. (Rizka)
