Buku, baik dalam bentuk fisik maupun e-book, tetap menjadi alat paling kuat untuk menyebarkan pengetahuan, mempromosikan perdamaian, dan memahami perbedaan budaya.
UNESCO setiap tahunnya juga menunjuk satu kota di dunia untuk menjadi Ibu Kota Buku Dunia. Kota yang terpilih bertanggung jawab untuk mempromosikan budaya membaca dan menyelenggarakan kegiatan literasi selama satu tahun penuh.
Hal ini membuktikan bahwa buku bukan sekadar benda mati, melainkan instrumen dinamis untuk perubahan sosial.
Baca Juga:Gebyar Pesona Budaya Garut 2026 Usung Misi "Waste Less" di Jantung KotaUsung Tema 'Our Power, Our Planet': Ini Makna Hari Bumi 2026
Lebih dari Sekadar Membaca
Selain merayakan konten buku, aspek “Hak Cipta” dalam nama resmi hari ini (World Book and Copyright Day) memegang peranan krusial.
Hari ini mengingatkan kita untuk menghargai hak kekayaan intelektual para penulis dan penerbit.
Tanpa perlindungan hak cipta yang kuat, kreativitas akan layu, dan penulis tidak akan mendapatkan apresiasi yang layak atas kerja keras mereka.
Hari Buku Sedunia adalah ajakan bagi kita semua untuk kembali menenggelamkan diri dalam imajinasi dan ilmu pengetahuan.
Di tengah arus informasi yang serba cepat dan seringkali dangkal di media sosial, membaca buku memberikan kedalaman berpikir yang tidak bisa digantikan.(*)
