Pada 2025, Disperkim Garut mendapat alokasi anggaran sekitar Rp1 miliar untuk bantuan bahan bangunan seperti genteng, GRC, hebel, dan semen. Sementara itu, pada 2026 anggaran dari pemerintah pusat dikabarkan turun menjadi sekitar Rp500 juta.
Ia mengatakan, untuk tahun 2026 dikarenakan mengalami penurunan anggaran, maka bantuan rutilahu tak hanya karena faktor usia, namun korban kebakaran pun bisa, tapi akan dilakukan verifikasi ketat oleh Disperkim.
“Nah untuk 2006 ini kan ada penurunan. Kita juga untuk bantuan korban-korban kebakaran itu kita dibagi dua, ada korban kebakaran dan ada misalkan ada rumah rubuh karena termakan usia, tapi itu ada verifikasinya akan ketat,” ucapnya.
Baca Juga:Harga Pupuk Melebihi HET, DPRD Garut Minta UPTD Responsif Soal Data PetaniSuasana Khidmat di Kafe Lapas Garut, KKSS Garut Pererat Silaturahmi Lewat Buka Puasa Bersama
Meski begitu, ia berharap dengan anggaran sangat terbatas, program Rutilahu akan terus berjalan dengan optimal, karena untuk membantu masyarakat kecil agar dapat hunian layak.
“Tapi karena keterbasan anggaran ya jadi lebih kecil, insyaallah ke depannya mungkin kita akan teruskan karena untuk Rutilahu ini kan istilahnya keperluan masyarakat yang utama lah gitu, karena untuk masyarakat kecil gitu,” tutupnya. (Rizka)
