Harun menilai tujuan utama pembinaan kemandirian adalah memberikan bekal agar warga binaan memiliki pilihan ketika kembali kepada keluarga dan lingkungan masyarakat.
“Karena itu, program pembinaan didorong tidak berhenti pada pelatihan sesaat, tetapi berkembang menjadi aktivitas produktif yang memiliki nilai ekonomi,” ungkapnya.
BACIPRUT, menurut Harun, menjadi salah satu contoh bagaimana kegiatan pembinaan dapat diarahkan pada produk nyata.
Baca Juga:Razia Gabungan Rutan Garut, WBP dan Pegawai Jalani Tes UrineRutan Garut Kukuhkan SATOPS PATNAL PAS 2026, Pengawasan Internal dan Integritas Petugas Diperkuat
“Selain menghasilkan baso aci, proses tersebut juga menjadi ruang bagi warga binaan untuk belajar bekerja secara teratur, mengikuti tahapan produksi, menjaga kualitas, serta memahami pentingnya kerja sama,” ucapnya.
Rutan Garut juga, diakui Harun terus membuka peluang kolaborasi dengan pihak eksternal untuk memperluas pilihan keterampilan yang dapat diberikan kepada warga binaan. “Melalui pola tersebut, pembinaan diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan nyata di masyarakat dan dunia usaha,” pungkasnya.
Di balik tembok Rutan, proses pembuatan BACIPRUT pun menjadi lebih dari sekadar mengolah makanan. Ada keterampilan yang sedang dibangun, pengalaman yang dikumpulkan, serta harapan agar ketika masa pidana selesai, warga binaan memiliki bekal untuk memulai kembali kehidupan secara lebih mandiri. (*)
