“Ansor hari ini tidak lahir dari ruang kosong. Ada perjuangan para kiai, ada pengorbanan para pendiri NU dan ada nilai-nilai yang harus terus kita jaga. Ziarah ini menjadi salah satu cara kami untuk mengingat dari mana kita berasal dan ke mana perjuangan ini harus diarahkan,” jelasnya.
Setelah berziarah ke makam KH Bisri Syansuri, rombongan PC GP Ansor Garut melanjutkan perjalanan ke makam Presiden ke-4 Republik Indonesia sekaligus tokoh NU, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Bagi Ansor Garut, Gus Dur juga menjadi bagian penting dari rangkaian ziarah karena nilai kemanusiaan, kebangsaan dan keberagaman yang melekat dalam perjalanan perjuangannya.
Baca Juga:Viral Pria Acungkan Celurit ke Truk di Cibalong, Polisi Amankan Terduga PelakuDiduga Curi Motor, Seorang Pria Dikejar hingga Diamankan Warga di Tarogong Kidul
“Di makam para ulama ini kami berdoa sekaligus mengambil pelajaran. Mereka mengajarkan bagaimana menjaga agama, menjaga bangsa, memperjuangkan umat dan tetap berdiri teguh dalam nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah,” ungkap Badar.
Ia menilai kegiatan tersebut juga memiliki kaitan erat dengan proses kaderisasi GP Ansor. Seorang kader, menurutnya, tidak cukup hanya memahami struktur maupun administrasi organisasi, tetapi harus mengetahui sejarah dan akar perjuangan Nahdlatul Ulama.
“Kalau kader memahami sejarah perjuangan para kiai, insyaallah rasa memiliki terhadap NU juga akan semakin kuat. Dari sana muncul tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan, menjaga tradisi, menjaga ulama dan memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujarnya.
Badar berharap rangkaian ziarah dari makam Syaikh Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri hingga Gus Dur tersebut menjadi bekal spiritual sekaligus ideologis bagi kader Ansor Garut.
Terlebih, kegiatan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan momentum Muktamar NU yang mempertemukan berbagai unsur Nahdliyin dari sejumlah daerah.
“Yang kami bawa pulang bukan hanya pengalaman mengikuti Muktamar. Kami ingin membawa semangat perjuangan para muassis dan para kiai untuk diterapkan dalam kerja-kerja Ansor di Garut, terutama dalam menjaga ke-NU-an, kebangsaan dan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Menurut Badar, perjalanan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa estafet perjuangan NU tidak boleh berhenti pada satu generasi.
