Tak Dapat Dukungan KORMI Garut, Atlet Panahan Tradisional Torehkan Tiga Medali di Kejurnas

istimewa
Tak Dapat Dukungan KORMI Garut, Atlet Panahan Tradisional Torehkan Tiga Medali di Kejurnas
0 Komentar

GARUT – Atlet panahan tradisional Kabupaten Garut berhasil menorehkan prestasi pada Kejuaraan Nasional Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (FESPATI) Malang 2026. Di tengah persaingan sekitar 1.100 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, kontingen FESPATI Pengcab Garut membawa pulang tiga medali untuk Jawa Barat.

Prestasi tersebut menjadi perhatian tersendiri karena, menurut FESPATI Pengcab Garut, perjuangan atlet menuju Kejurnas dilakukan dengan keterbatasan dukungan. FESPATI Garut mengaku tidak mendapatkan dukungan yang berarti dari KORMI Kabupaten Garut sebagai induk organisasi dalam proses keberangkatan menuju kejuaraan nasional.

Ketua FESPATI Pengcab Garut, Alif Firmansah, mengatakan keberhasilan atlet meraih medali membuktikan bahwa potensi panahan tradisional Garut mampu bersaing di tingkat nasional meski proses menuju kompetisi harus dijalani dengan kemampuan dan sumber daya yang terbatas.

Baca Juga:PNM Tanam 5.000 Pohon, Dorong Penghijauan dan Keberlanjutan LingkunganMuhammad Harun Al Rasyid Terima Estafet Kepemimpinan dari Muchamad Ismail

“Alhamdulillah, dari sekitar 1.100 peserta yang mengikuti Kejurnas FESPATI Malang 2026, atlet Garut mampu membawa pulang tiga medali. Ini tentu menjadi kebanggaan karena mereka mampu bersaing dengan atlet-atlet dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Alif.

Tiga medali tersebut masing-masing diraih Fareeq Aiman Lazuardi dengan medali perak kategori U-9 Putra, Syaqil Nurin Nazri dengan medali perunggu U-12 Putra, serta Jajang Hernawan yang memperoleh perunggu pada kategori Jemparing Umum Putra.

Namun, Alif menilai ada persoalan lain yang perlu menjadi evaluasi setelah keberhasilan tersebut. Menurutnya, keberangkatan para atlet menuju Kejurnas belum mendapatkan dukungan sebagaimana yang diharapkan, khususnya dari KORMI Kabupaten Garut.

“Yang menjadi catatan kami, atlet-atlet ini berangkat dan berjuang dengan kemampuan yang ada. Dukungan yang kami harapkan dari KORMI Kabupaten Garut sebagai induk organisasi belum kami rasakan dalam keberangkatan Kejurnas ini,” katanya.

Menurut Alif, persoalan tersebut bukan semata-mata tentang besaran bantuan finansial. Pembinaan atlet, kata dia, membutuhkan keberpihakan yang hadir sejak proses latihan, persiapan, penyediaan fasilitas hingga keberangkatan mengikuti kompetisi.

“Prestasi itu tidak muncul tiba-tiba ketika atlet sudah naik podium. Ada latihan panjang, ada pelatih, orang tua, perlengkapan, biaya perjalanan dan banyak pengorbanan di belakangnya. Justru dukungan itu paling dibutuhkan ketika atlet sedang berproses menuju prestasi,” jelasnya.

0 Komentar