RADARGARUT– Kekeringan yang melanda Kabupaten Bandung semakin menjadi sorotan. Di Kecamatan Margaasih, warga harus berjuang keras memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Tanpa hujan yang cukup selama musim kemarau, sumur-sumur tradisional mengering atau airnya menjadi tidak layak pakai, memaksa masyarakat membeli air dari penjual keliling dengan harga yang cukup memberatkan.
Salah seorang warga Margaasih mengungkapkan keluhannya. Keluarganya membutuhkan sekitar 10 jerigen air setiap hari untuk keperluan memasak, mandi, mencuci, hingga ke toilet. Dengan harga Rp5.000 per jerigen, pengeluaran harian untuk air saja mencapai Rp50.000.
Baca Juga:iOS 27 Public Beta Resmi Rilis! Ini Fitur Canggih Terbarunya7 Amalan Sunnah Malam Jumat yang Paling Dianjurkan, Pahalanya Berlipat Ganda
“Mau tidak mau harus beli, tidak ada pilihan lain,” katanya saat ditemui Kamis 16 Juli 2026.
Sumur di rumahnya masih ada, namun airnya keruh, berbau, dan berisiko bagi kesehatan keluarga jika digunakan untuk aktivitas sehari-hari.
Kondisi ini bukan hanya dirasakan satu keluarga saja. Banyak warga di Margaasih dan sekitarnya mengalami hal serupa. Beban ekonomi bertambah di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik.
Bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan, pengeluaran ekstra Rp50.000 per hari bisa menggerus tabungan atau bahkan memaksa mengurangi porsi makan.
Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan, karena akses air bersih sangat penting untuk menjaga kebersihan dan mencegah penyakit seperti diare atau infeksi kulit.
Pemerintah Kabupaten Bandung tidak tinggal diam. Wakil Bupati Bandung, Ali Syakieb, menyatakan bahwa penanganan kekeringan menjadi prioritas utama. Saat ini, 27 dari 31 kecamatan di Kabupaten Bandung telah terdampak kekeringan.
Pemkab telah menetapkan status siaga darurat kekeringan untuk mempercepat respon dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
Baca Juga:Update WhatsApp Business 2026: Fitur Terbaru yang Bikin Bisnis Lebih Mudah & EfisienGarut International Kite Festival 2026 Siap Warnai Langit Jawa Barat: Pertemuan Alam dan Budaya di Atas Awan
Distribusi air bersih terus dilakukan melalui kerjasama antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Perumda Air Minum, pemerintah kecamatan, dan desa setempat.
Selain itu, bantuan infrastruktur berupa toren air dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang disiapkan. Bantuan ini akan diprioritaskan ke wilayah-wilayah yang paling parah berdasarkan pemetaan lapangan.
“Kami prihatin dengan kondisi yang terjadi. Kami berupaya agar aktivitas masyarakat tidak terganggu,” ujar Ali Syakieb.
Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan Perumda Air Minum untuk menyusun strategi jangka panjang, termasuk peningkatan infrastruktur air dan sumur bor di daerah rawan.
