Menurutnya, pemerintah perlu menetapkan pembagian fungsi yang jelas antara kedua bandara tersebut. Dengan demikian, Bandara Husein dan Kertajati dapat beroperasi secara saling melengkapi, bukan justru bersaing dalam memperebutkan pasar penerbangan.
“Jangan sampai reaktivasi Husein hanya menjawab kebutuhan jangka pendek masyarakat yang ingin akses lebih dekat ke pusat kota, tetapi mengorbankan perencanaan transportasi dan pengembangan wilayah Jawa Barat dalam jangka panjang,” ujarnya.
Meskipun memberikan sejumlah catatan kritis, Yudi mengakui bahwa beroperasinya kembali Bandara Husein dapat membawa dampak positif bagi perekonomian Kota Bandung. Sektor pariwisata, perdagangan, perhotelan, hingga jasa diperkirakan akan memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas transportasi udara.
Baca Juga:PGE Kamojang Dukung Program TAMASYA, Perkuat Kualitas Pengasuhan Anak dan Ketahanan Keluarga di GarutMenkeu Purbaya Tampil Stylish Kenakan Jaket Kulit Garut, Bukti Dukungan Nyata untuk UMKM Lokal
Karena itu, ia menilai reaktivasi bandara harus didahului kajian yang komprehensif, mencakup aspek kapasitas infrastruktur, keselamatan penerbangan, dampak lingkungan, serta kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah Bandung Raya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan agar Bandara Husein Sastranegara kembali melayani penerbangan komersial. Menyikapi arahan tersebut, Pemerintah Kota Bandung mulai mempersiapkan berbagai dukungan infrastruktur guna menunjang kelancaran operasional bandara di masa mendatang. (*)
