RADARGARUT– Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan Kamis pagi.
Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda bergerak melemah tipis sebesar 1 poin atau sekitar 0,01 persen, membawa rupiah bertengger di level Rp17.655 per dolar AS.
Angka ini menunjukkan penurunan dibanding posisi penutupan perdagangan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp17.654 per dolar AS.
Baca Juga:Pemerintah Arab Berangkatkan 42 WNI Haji Gratis Tanpa AntriLink dan Cara Beli Tiket Pre-sale Konser West Life 25th Tour Anniversary
Meski pelemahan pada pembukaan perdagangan Kamis pagi ini tergolong tipis, pergerakan nilai tukar rupiah ke depan diprediksi masih akan menghadapi tekanan yang cukup berat.
Sejumlah analis memperkirakan mata uang domestik akan terus berfluktuasi dengan kecenderungan melemah sepanjang hari ini.
Faktor Global: Tingginya Harga Minyak dan Dominasi Dolar AS
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa fluktuasi negatif yang dialami rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global yang dinamis.
Dua faktor utama yang menjadi motor penggerak pelemahan ini adalah bertahannya harga minyak mentah dunia di level yang tinggi serta masih kuatnya indeks dolar AS di pasar global.
”Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan bergerak melemah dengan kisaran pergerakan di rentang Rp17.690 hingga Rp17.740 per dolar AS. Faktor global seperti harga minyak yang masih bertengger di atas 100 dolar AS per barel serta indeks dolar yang kokoh menjadi penekan utama mata uang kita,” ujar Rully di Jakarta.
Dari komoditas energi, harga minyak mentah jenis Brent berjangka saat ini diperdagangkan di kisaran 104,5 dolar AS per barel, mengalami sedikit penurunan sekitar 6,5 persen dari lonjakan sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga terkoreksi sekitar 5,5 persen ke posisi 98 dolar AS per barel.
Baca Juga:Dispora Garut Gelar Nobar Persib vs Persijap Gratis di SOR R.A.A AdiwijayaNiat dan Tata Cara Puasa Arafah, Bisa Hapus Dosa 2 Tahun
Penurunan harga minyak dunia yang terjadi belakangan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai meredanya tensi geopolitik, di mana ia mengisyaratkan bahwa ketegangan dengan Iran akan segera berakhir melalui jalur negosiasi.
Di sisi lain, penurunan harga ini juga berbarengan dengan fakta mencengangkan dari sektor energi AS, di mana cadangan minyak mentah komersial dan cadangan strategis AS merosot tajam sebesar 17,8 juta barel dalam sepekan akibat lonjakan ekspor, menandai penurunan stok paling signifikan dalam sejarah negeri Paman Sam tersebut.
