Meski demikian, rivalitas seperti ini justru menunjukkan vitalitas sepak bola Tanah Air. Di balik candaan dan olok-olok, ada semangat kompetisi yang membuat liga semakin menarik. Bagi Persija, kekalahan ini bisa menjadi cambuk untuk bangkit di sisa pertandingan. Sedangkan Persib semakin termotivasi mengejar gelar.
Di era digital saat ini, sepak bola tak lagi berhenti di peluit akhir wasit. Pertarungan berlanjut di lini masa, kolom komentar, dan feed media sosial.
“Cacing Kemayoran” mungkin hanya hiburan sesaat bagi sebagian orang, tapi bagi suporter Persija, ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan diri harus dibarengi dengan penampilan yang sesuai di lapangan. Rivalitas Persija-Persib tetap hidup, baik di stadion maupun di dunia maya. (*)
