RADARGARUT– Kabupaten Garut menunjukkan kemajuan signifikan dalam upaya pengentasan kemiskinan. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Garut yang dirilis dalam “Garut Dalam Angka 2026” mengungkap tren positif, jumlah penduduk miskin terus menurun dari tahun ke tahun, baik secara absolut maupun persentase.
Menurut infografis resmi Garut Satu Data, pada 2023 jumlah penduduk miskin di Garut mencapai 260,48 ribu jiwa atau 9,77% dari total penduduk. Angka ini turun tipis pada 2024 menjadi 259,3 ribu jiwa (9,68%).
Penurunan yang lebih tajam terjadi pada 2025, di mana jumlah penduduk miskin berhasil ditekan menjadi 252,56 ribu jiwa dengan persentase 9,09%.
Baca Juga:Api Lahap Warung Di Tarogong Kaler, Kerugian Ditaksir Puluhan Juta RupiahDinkes Catat 112 Kasus Campak dan Rubela, Didominasi Wilayah Garut Selatan
Artinya, dalam kurun tiga tahun, Garut berhasil mengurangi jumlah penduduk miskin sebanyak kurang lebih 7.920 jiwa dan menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 0,68 persen.
Kemiskinan di Kabupaten Garut terus menurun dari tahun ke tahun, baik dari jumlah maupun persentasenya, yang menunjukkan semakin sedikit penduduk berada di bawah garis kemiskinan.
Penurunan ini menjadi kabar baik bagi daerah yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu kabupaten dengan tantangan kemiskinan yang cukup tinggi di Jawa Barat. Berbagai program pemerintah daerah tampaknya mulai menunjukkan hasil, mulai dari pemberdayaan ekonomi masyarakat, program bantuan sosial yang lebih tepat sasaran, pengembangan UMKM, hingga peningkatan akses pendidikan dan kesehatan.
Faktor Pendukung Penurunan Kemiskinan
Beberapa faktor yang diyakini berkontribusi antara lain:
- Peningkatan investasi di sektor pertanian, pariwisata, dan industri kecil-menengah.
- Program-program inovatif dari Pemerintah Kabupaten Garut yang fokus pada pemberdayaan masyarakat desa.
- Kerja sama antar-stakeholder, termasuk partisipasi swasta dan lembaga swadaya masyarakat.
- Peningkatan infrastruktur dasar yang memudahkan akses ekonomi masyarakat.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Garut masih harus bekerja keras untuk menekan angka kemiskinan di bawah 9 persen dan menuju target yang lebih ambisius.
Isu stunting, akses pendidikan berkualitas, serta ketimpangan antarwilayah (terutama antara perkotaan dan pedesaan) masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Bupati Garut beserta jajarannya diharapkan dapat memanfaatkan momentum positif ini untuk mempercepat program-program pengentasan kemiskinan yang lebih terukur dan berkelanjutan. Kolaborasi dengan pemerintah provinsi Jawa Barat, khususnya di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi, juga dinilai sangat strategis.
