Di sektor pertanian, petani padi, jagung, dan palawija terancam gagal panen besar-besaran. Musim tanam yang terganggu bisa menyebabkan lonjakan harga bahan pangan dan mengancam ketahanan pangan nasional. Wilayah seperti Jawa, Sumatra, dan Sulawesi yang menjadi lumbung pangan berpotensi paling terdampak.
Kebakaran hutan dan lahan juga menjadi momok besar. Dengan cuaca panas ekstrem dan kelembaban rendah, lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan mudah terbakar.
Asap tebal bukan hanya merusak lingkungan dan biodiversitas, tapi juga membahayakan kesehatan masyarakat. Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), asma, dan masalah mata diprediksi melonjak, terutama pada anak-anak dan lansia. Kualitas udara buruk bisa memaksa sekolah dan aktivitas luar ruangan dihentikan sementara.
Baca Juga:Prediksi Cuaca Garut Awal Pekan Mei 2026: Waspada Potensi HujanInflasi Indonesia April 2026 Diprediksi Turun ke 3,26%:
Secara ekonomi, dampaknya meluas. Mulai dari sektor pertanian, perikanan (karena perubahan suhu laut memengaruhi stok ikan), pariwisata, hingga transportasi (kabut asap mengganggu penerbangan) bisa terganggu.
Di sisi lain, beberapa wilayah seperti bagian utara Sumatra dan Kalimantan justru berpotensi mengalami hujan lebih lebat akibat pola sirkulasi yang kompleks, yang malah berisiko memicu banjir dan longsor di musim transisi.
Godzilla El Niño 2026 bukan sekadar berita cuaca, melainkan panggilan untuk meningkatkan ketahanan iklim nasional. Mulai dari skala individu hingga kebijakan pemerintah, persiapan dini adalah kunci untuk meminimalkan kerugian.
Mari kita waspadai bersama ancaman ini dan ubah tantangan menjadi momentum untuk membangun Indonesia yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.(*)
