Inflasi Indonesia April 2026 Diprediksi Turun ke 3,26%:

(Unsplash/radargarut.id)
Inflasi melandai di level 3 persen (Unsplash/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Laju inflasi Indonesia diproyeksikan melandai pada April 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data resmi hari ini, Senin 4 Mei 2026, dengan estimasi tingkat inflasi tahunan mencapai 3,26 persen.

Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi Maret 2026 yang tercatat sebesar 3,48 persen. Penurunan ini memberikan napas lega sementara bagi perekonomian domestik. Inflasi April masih berada dengan nyaman di dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) yaitu 2,5%.

Keberhasilan menjaga inflasi dalam koridor sasaran menjadi kunci utama untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.Namun, ekonom memperingatkan bahwa penurunan ini bersifat sementara.

Baca Juga:Bayar Pajak Praktis Pakai Aplikasi Digi Bank BJB: Lengkap, Cepat, Tanpa Antre!Ramalan Zodiak Taurus di Taurus Season 2026: Waktu Keberuntungan, Cinta, dan Transformasi Diri!

Mulai Mei hingga kuartal III-2026, tekanan inflasi diperkirakan akan kembali menguat. Faktor utamanya adalah lonjakan harga energi global akibat gangguan pasokan dan eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, terutama Timur Tengah.

Dampak Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah

Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Mast Henderson, menyoroti risiko berantai dari kondisi global. Kenaikan harga minyak mentah dunia mendorong inflasi inti melalui komponen transportasi dan harga pangan.

“Meningkatnya aversi risiko telah melemahkan rupiah terhadap dolar AS dan mata uang utama lainnya, sehingga meningkatkan biaya impor,” ujarnya.

Pelemahan nilai tukar rupiah membuat bahan baku industri, komoditas energi, dan barang impor lainnya semakin mahal. Hal ini mempercepat transmisi inflasi eksternal ke pasar domestik, terutama di tengah arus modal keluar dari negara-negara berkembang.

Data realtime Bloomberg mencatat harga minyak Brent untuk pengiriman Juni berada di level US$114,01 per barel. Setiap kenaikan US$1 per barel berpotensi menambah defisit anggaran negara hingga Rp6,8 triliun.

Defisit APBN kuartal I-2026 sudah mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB, dan berisiko membengkak hingga Rp74,8 triliun jika harga energi tidak stabil.

Respons Pemerintah dan Tantangan Fiskal

Pemerintah berupaya meredam dampak melalui kebijakan subsidi energi agar beban tidak sepenuhnya ditanggung konsumen. Strategi ini efektif dalam jangka pendek, tetapi menguji ruang fiskal negara jika harga minyak dunia bertahan tinggi dalam waktu lama.

Baca Juga:Jadwal SIM Keliling Garut Mei 2026, Simak Detail Syarat dan Lokasinya!Keberuntungan Besar Mengguyur Mei 2026: 3 Shio Ini Diprediksi Menuai Sukses Luar Biasa!

Di sisi lain, normalisasi permintaan pasca-Ramadan dan Idul Fitri turut berkontribusi pada penurunan inflasi April. Efek basis rendah dari periode sebelumnya juga memengaruhi angka tahunan, sehingga inflasi kembali ke tren yang lebih stabil.

0 Komentar