RADARGARUT– Di tengah perbukitan hijau dan udara sejuk khas Priangan Timur, terdapat sebuah stasiun kereta api kecil yang namanya selalu disebut dalam setiap perjalanan lintas selatan Jawa.
Namanya Stasiun Cipeundeuy, berada di Desa Cikarag, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Meski berukuran mungil, stasiun ini memiliki peran sangat vital dimana semua kereta api yang melintas, dari kelas eksekutif hingga ekonomi, wajib berhenti di sini selama sekitar 10 menit.
Stasiun Cipeundeuy dibangun pada tahun 1893 oleh Staatsspoorwegen (SS) masa Hindia Belanda. Kini, lebih dari 130 tahun kemudian, stasiun ini tetap setia menjalankan tugasnya. Terletak di ketinggian +772 meter di atas permukaan laut, Cipeundeuy menjadi salah satu stasiun aktif tertinggi ketiga di Indonesia.
Baca Juga:Jelang Hari Kartini: Makna Historis Dari Tanggal 21 AprilTimnas U17 Indonesia Tersingkir di Piala AFF, Strategi Bertahan Gagal Total!
Letaknya yang strategis di jalur yang menghubungkan Bandung-Tasikmalaya-Banjar membuatnya menjadi titik krusial bagi kereta yang melintasi kontur tanah Garut yang terjal.
Semua kereta yang melintas stasiun ini harus berhenti karena setelah stasiun ini, jalur kereta memasuki petak jalan dengan gradien ekstrem naik dan turun yang curam. Petugas KAI melakukan pemeriksaan sistem pengereman dan kondisi sarana secara teliti sebelum melanjutkan perjalanan.
Kebijakan ini sudah berlangsung sejak zaman kolonial dan semakin diperketat setelah tragedi kecelakaan kereta api Galuh dan Kahuripan pada 1995 di sekitar wilayah Malangbong.
Sejak itu, pemeriksaan di Cipeundeuy menjadi bagian tak terpisahkan demi menjaga keselamatan ribuan penumpang yang melintasi jalur selatan Jawa Barat.
Bagi warga Garut, khususnya masyarakat Malangbong dan sekitarnya, Stasiun Cipeundeuy bukan sekadar tempat persinggahan kereta. Stasiun ini telah menjadi bagian hidup sehari-hari.
Di sekitarnya tumbuh berbagai UMKM lokal yang menghidupkan perekonomian desa. Mulai dari pedagang kecil hingga kios-kios makanan, stasiun ini menjadi pusat aktivitas ekonomi sederhana namun bermanfaat.
Sejak November 2025, KAI bahkan menyediakan 10 kios UMKM dan pujasera di area stasiun. Penumpang yang turun sebentar bisa langsung menikmati kuliner khas Garut seperti dodol Garut yang legit, keripik singkong pedas, keripik tempe, hingga kopi pegunungan yang harum.
Baca Juga:Keracunan Massal di Posyandu Cianjur: 63 Ibu dan Balita Sakit Setelah Makan Bergizi GratisCurug Orok Garut: Pesona Air Terjun Megah Berbalut Legenda yang Wajib Dikunjungi di Jawa Barat
Saat kereta berhenti para penumpang akan buru-buru turun, membeli camilan, berfoto di depan papan nama “Cipeundeuy +772”, lalu kembali naik sebelum peluit berbunyi. Bagi warga setempat, ini peluang emas menjajakan produk lokal sambil menikmati hembusan angin dingin pegunungan Garut.
