RADARGARUT– Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 22 poin atau 0,13 persen ke level Rp 17.127 per USD.
Angka ini menandai salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir dan menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha di Indonesia.
Pelemahan rupiah ini tidak hanya mencerminkan dinamika pasar global, tetapi juga langsung berdampak pada sektor riil dalam negeri.
Baca Juga:Korban Luapkan Kekecewaan dan Kemarahan Saat 16 Pelaku Grup Chat Mesum FHUI Dihadapkan Langsung di AuditoriumTimnas Futsal Indonesia Hampir Unggul Dari Thailand: Pertandingan Berakhir Seri
Pelemahan nilai tukar rupiah ini terjadi karena salah satu faktor diantaranya adalah besarnya pengaruh konflik Iran dengan Amerika di Timur Tengah.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azam, menyatakan bahwa kondisi kurs saat ini memberikan efek yang sangat berbeda antara importir dan eksportir.
Importir mengalami tekanan berat karena biaya impor barang dan bahan baku melonjak signifikan, sementara eksportir justru diuntungkan dengan nilai tukar yang lebih rendah ini.
Bob Azam memberikan keterangannya saat ditemui di Kompleks Parlemen RI, Selasa 14 April 2026. Dirinya menuturkan hal ini sangat berdampak pada importir.
“Ya pastilah, yang importir akan tertekan, yang eksportir ya happy gitu loh dengan Rp 17.000,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pelaku usaha perlu segera mengantisipasi berbagai kemungkinan dampak lanjutan dari pelemahan ini.
Menurut Bob, pelemahan rupiah sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk menarik investasi asing, terutama yang berorientasi pada ekspor.
Baca Juga:BPJS PBI Nonaktif? Jangan Panik! Ini 3 Cara Mudah Mengaktifkan Kembali Jaminan Kesehatan Gratis AndaPeluang Emas Bergabung dengan Bank Indonesia: Rekrutmen April 2026 Dibuka, Ratusan Posisi Strategis Menanti
Dengan rupiah yang lebih lemah, produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global, sehingga investor potensial melihat Indonesia sebagai destinasi yang menarik untuk membangun basis produksi ekspor.
Namun, ia juga mengingatkan risiko yang menyertainya karena nilai tukar rupiah yang melemah akan mempengaruhi banyak sekali sektor ekonomi.
Pelemahan rupiah juga berpotensi memicu peningkatan biaya produksi secara keseluruhan.
Banyak industri manufaktur di Indonesia masih mengimpor komponen dan bahan baku utama, sehingga kenaikan kurs dolar langsung menekan margin keuntungan perusahaan.
Dampak ini bisa merembet ke harga barang di pasar domestik dan pada akhirnya membebani daya beli masyarakat.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah ke level Rp 17.127 per USD ini menjadi ujian bagi ketahanan ekonomi Indonesia.
