RADARGARUT.ID – Garut adalah salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki peran penting dalam sejarah pariwisata pada masa kolonial.
Julukan Swiss van Java yang melekat pada Garut bukan sekadar ungkapan keindahan alam, melainkan lahir dari proses sejarah panjang yang melibatkan kondisi geografis, perkembangan infrastruktur, serta pandangan bangsa Eropa terhadap wilayah tersebut.
Garut pada Masa Kolonial Belanda
Pada awal abad ke-19, setelah pemindahan pusat pemerintahan dari Limbangan ke Garut pada tahun 1813, wilayah Garut mulai berkembang sebagai pusat administrasi dan ekonomi.
Baca Juga:10 Ide Jualan Dari Telur Seribuan, Jajanan Murah Dengan Peluang Untung MenjanjikanSebuah Motor Hangus Terbakar di Jalan Raya Malangbong–Tasik, Satu Orang Selamat
Letaknya yang berada di dataran tinggi dengan iklim sejuk menjadikan Garut berbeda dari banyak daerah lain di Pulau Jawa yang beriklim panas.
Pemerintah kolonial Belanda melihat potensi besar Garut sebagai daerah peristirahatan (resort area) bagi pejabat dan kaum elite Eropa.
Kondisi alamnya yang dikelilingi pegunungan serta pemandangan hijau dianggap mengingatkan mereka pada kawasan Alpen di Swiss.
Berkembangnya Pariwisata dan Perkebunan
Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Garut mengalami perkembangan pesat dalam sektor perkebunan dan pariwisata.
Perkebunan teh dan sayuran mulai dibuka di berbagai wilayah pegunungan, seperti Cisurupan dan Samarang. Hamparan perkebunan yang luas dengan latar pegunungan menciptakan panorama khas Eropa.
Pada masa yang sama, berbagai fasilitas wisata dibangun, seperti hotel, vila, dan pemandian air panas.
Hotel Papandayan dan pemandian air panas Cipanas menjadi tempat favorit bagi orang-orang Eropa untuk berlibur dan memulihkan kesehatan.
Baca Juga:Kandang Ayam Milik Warga Samarang Garut Hangus Dilalap Api, Kerugian Capai Rp80 JutaJelang Ramadhan Wisata Religi Cibiuk Membludak, Bus Wisata Terpaksa Parkir di Bahu Jalan
Keberadaan fasilitas ini memperkuat citra Garut sebagai daerah wisata pegunungan yang eksklusif.
Munculnya Julukan Swiss van Java
Julukan “Swiss van Java” mulai populer di kalangan orang Eropa yang tinggal di Hindia Belanda. Mereka membandingkan Garut dengan Swiss karena kesamaan bentang alam, udara sejuk, serta suasana tenang yang jauh dari hiruk pikuk kota besar.
Sebutan ini kemudian digunakan secara luas dalam tulisan-tulisan perjalanan, laporan kolonial, dan promosi wisata pada masa itu. Julukan tersebut menjadi simbol keindahan Garut dan sekaligus alat promosi pariwisata kolonial.
