RADARGARUT.ID – Menara yang berdiri sejak tahun 1990-an yang berfungsi sebagai gedung perkantoran terletak di Jakarta, Indonesia.
Landmark dengan desain ala Italia dengan ukiran-ukiran klasik yang saat ini pudar dan lusuh tertutup lapisan debu.
Menara itu adalah Menara Saidah, gedung yang sekarang berubah menjadi simbol berhentinya tata kota Jakarta. Menara Saidah bukan sekedar gedung, tapi sebuah landmark dari ambisi modernisasi kota Jakarta.
Baca Juga:Sebanyak 7.180 Penerima Beasiswa Cinta Bergema Dinyatakan Lolos! Cek Persyaratan LengkapnyaPerda PKL Segera Disahkan, Jadi Dasar Hukum Penataan Pedagang di Garut
Menara yang memakan biaya sekitar Rp 50 milliar untuk pembangunanya itu dibangun oleh PT Hutama Karya berawal dengan nama “Gracindo Building” pemiliknya adalah Mooryati Soedibyo founder dari Mustika Ratu.
Dan beralih kepemilikan Menara Saidah menjadi milik founder Merial Group yaitu keluarga Saidah, tepatnya Abu Bakar Ibrahim. Sejak saat itulah gedung tersebut berubah menjadi “Menara Saidah”.
Namun dengan seiring berjalanya waktu aktivitas di gedung tersebut merosot. Banyak berita mengabarkan bahwa terdapat masalah terkait perizinan, keamanan struktural, sampai administrasi sehingga Menara Saidah resmi ditutup pada tahun 2007.
Gedung dengan 28 lantai, diisi dengan berbagai instansi penting dikenal sebagai geduh yang beridiri megah. Kini berubah tampak lusuh, gedung yang pada masanya merupakan simbol kemajuan kota Jakarta sekarang berubah.
Sebelumnya pemerintah berencana mengambil alih dan sempat renovasi tetapi hanya berlangsung dua bulan dan tidak ada kejelasan lebih lanjut.
Menara Saidah menjadi saksi atas perjalanan menuju modernisasi yang tak tuntas. Gedung megah dengan gaya Ilatia saat ini termakan oleh waktu. Dibalik dari gedung megah itu tersimpan cerita yang sampai saat ini tidak diketahui.
Menara Saidah bukan hanya sebagai bangunan yang sudah dihuni tapi juga sebagai simbol kemajuan kota yang terus maju namun tetap meninggalkan jejak masalalu yang tak tuntas.
