Harga Bapokting di Garut Fluktuatif, Disperindag Catat Kunjungan Pasar Turun Lebih dari 20 Persen

Penjual Ayam Boiler di Pasar Ciawitali Garut. (Ale/Radar Garut)
Penjual Ayam Boiler di Pasar Ciawitali Garut. (Ale/Radar Garut)
0 Komentar

Kunjungan ke Pasar Rakyat Ikut Menurun

Di luar persoalan harga, Disperindag ESDM juga mencermati adanya penurunan kunjungan masyarakat ke pasar rakyat.

Ridwan mengatakan kondisi tersebut tidak hanya terjadi di pasar tradisional, tetapi juga dirasakan sejumlah pusat perbelanjaan lainnya.

“Itu pun juga terjadi tidak hanya ke pasar rakyat. Saya berkunjung ke beberapa pusat-pusat perbelanjaan seperti di Garut Plaza, kemudian di pusat-pusat perbelanjaan lain. Bahkan tidak hanya di Garut, di kota besar pun juga sama,” ucapnya.

Baca Juga:Kejar Target Pembangunan 2027, Pemkab Garut Siap Bebaskan Lahan Sekolah Rakyat di Desa Sukakarya SamarangPemkab dan DPRD Garut Terus Godok Raperda PKL: Tertibkan Kota Tanpa Mematikan Usaha Rakyat

Ia mencontohkan kondisi serupa juga terlihat di beberapa pusat perdagangan di luar daerah, termasuk kawasan Tanah Abang, Jakarta.

Menurut Ridwan, salah satu faktor yang memengaruhi berkurangnya kunjungan konsumen ke pusat perbelanjaan konvensional adalah perubahan pola belanja masyarakat ke platform daring.

“Online shopping ini meminimalisir tingkat kunjungan konsumen ke tempat belanja. Termasuk juga sekarang banyak apa yang diperdagangkan di pasar rakyat tersedia di beberapa toko online,” ungkapnya.

Perubahan pola usaha juga mulai terlihat. Sejumlah toko yang sebelumnya hanya menjual produk tertentu kini ikut menawarkan berbagai komoditas yang selama ini identik dengan pasar rakyat.

Ridwan menyebut, berdasarkan kondisi yang dirasakan para pedagang, penurunan aktivitas maupun kunjungan konsumen ke pasar diperkirakan mencapai lebih dari 20 persen.

“Ya memang lebih dari 20 persen lah itu yang dirasakan oleh para pedagang,” pungkasnya. (*)

0 Komentar