Beberapa kecamatan seperti Wanaraja, Banyuresmi, dan Malangbong berpotensi hujan ringan di akhir periode, tetapi secara keseluruhan tetap dominan kemarau dengan suhu dingin malam hari.
Dampak suhu dingin ini dirasakan masyarakat. Warga di dataran tinggi seperti Desa Cikandang sering diselimuti kabut tebal, mengurangi jarak pandang dan meningkatkan risiko kesehatan.
Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan perlu waspada hipotermia. Gejala seperti menggigil, kelelahan, dan penurunan suhu tubuh bisa muncul jika tidak diantisipasi. BMKG dan pemerintah daerah menyarankan penggunaan pakaian berlapis, menjaga rumah tetap hangat, dan menghindari aktivitas malam jika tidak perlu.
Baca Juga:Api Lahap Gudang Produksi Kusen Kayu Di Bayongbong Garut, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta RupiahAnti Ribet, Naik Kereta Kini Tinggal Setor Muka!
Selain kesehatan, sektor pertanian dan pariwisata juga terpengaruh. Petani teh dan sayuran di kawasan tinggi harus menjaga tanaman dari embun dingin, sementara wisatawan yang mencari udara sejuk justru ramai berkunjung ke Garut.
Namun, potensi kabut dan suhu rendah meningkatkan risiko kecelakaan di jalan pegunungan.
Secara keseluruhan, BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung hingga Agustus-September, dengan suhu dingin yang masih dominan di wilayah seperti Garut.
Masyarakat diimbau memantau update resmi BMKG dan mempersiapkan mitigasi, termasuk cadangan air bersih mengingat kemarau yang lebih kering akibat pengaruh iklim.bbb7b7staklim-kalsel.
Fenomena ini mengingatkan pentingnya adaptasi terhadap variabilitas cuaca. Garut, dengan keindahan alam dan udaranya yang sejuk, tetap menjadi destinasi menarik, tetapi kewaspadaan terhadap dingin ekstrem menjadi kunci untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan warga.(*)
