Rupiah Ambruk ke Rp17.600, Warga & Pengusaha Ramai Borong Dolar AS!

(Freepik/radargarut.id)
Kurs dolar (Freepik/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Pelemahan rupiah yang semakin mengkhawatirkan memicu lonjakan aktivitas di money changer Jakarta. Masyarakat dan pelaku usaha berbondong-bondong menukar mata uang, baik menjual maupun membeli dolar AS di tengah kekhawatiran kurs terus terpuruk.

Pada Jumat 15 Mei 2026, kurs rupiah sempat menyentuh level Rp17.606 per dolar AS pada pagi hari, melemah 77 poin atau 0,44 persen menurut data Bloomberg. Meski sore harinya sedikit menguat ke Rp17.596, tren pelemahan ini tetap menciptakan kepanikan di pasar valuta asing.

Dian, petugas money changer di Jakarta Pusat, melaporkan kenaikan penjualan dolar AS hingga 50-60 persen.

Baca Juga:Kronologi Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Laptop Pendidikan yang Menjerat Nadiem MakarimApple Siap Luncurkan MacBook Neo ke Pasar Tanah Air!

“Banyak yang jual karena kursnya sedang tinggi di Rp17.600-an,” ujarnya.

Menurut Dian, pola biasa masyarakat adalah menjual dolar saat harganya mahal dan membeli saat rendah. Namun, situasi terkini menunjukkan perilaku yang lebih beragam.

Di Jakarta Selatan, Bimo dari salah satu money changer justru mencatat tren pembelian dolar yang lebih dominan. Pelanggan tetap memborong dolar meski harganya melambung tinggi.

Mereka percaya rupiah akan terus melemah, bahkan ada spekulasi bisa menembus Rp20.000 per dolar AS.

“Demand-nya memang lagi banyak yang nyari,” katanya.

Kenaikan pembelian mencapai sekitar 50 persen dibandingkan sebelum rupiah menembus Rp17.000. Transaksi yang terjadi beragam. Untuk keperluan pribadi seperti wisata, nominal mulai dari USD 100 hingga USD 10.000.

Sementara untuk bisnis, sering di atas USD 10.000, bahkan puluhan ribu dolar dengan syarat dokumen underlying bagi transaksi di atas USD 25.000. Banyak pelaku usaha juga rutin membeli dalam kisaran USD 4.000–10.000 untuk hedging dan lindung nilai terhadap fluktuasi kurs.

Beberapa bahkan menggunakan dolar untuk bayar karyawan atau investasi jangka menengah. Selain dolar AS, permintaan terhadap dolar Singapura (SGD), yen Jepang, dan won Korea juga meningkat. SGD menjadi favorit karena dinilai lebih stabil dan mudah ditukar kembali.

Baca Juga:Prakiraan Cuaca Garut 15 Mei 2026SMAN 1 Pontianak Tegas Tolak Lomba Cerdas Cermat Ulang

Pelemahan rupiah ini dipengaruhi faktor global seperti kebijakan The Fed, ketegangan geopolitik, serta sentimen domestik. Bagi importir, biaya produksi langsung naik dan berpotensi menekan harga jual barang. Masyarakat pun khawatir daya beli terhadap produk impor akan semakin terkikis, memicu inflasi.

0 Komentar