Prakiraan Cuaca Jawa Barat Mei 2026: Garut Siap Hadapi Awal Musim Kemarau Lebih Kering dan Panas!

prospek cuaca mingguan bmkg
Prospek cuaca mingguan BMKG 8–15 Desember untuk seluruh wilayah Indonesia. Waspada potensi hujan lebat dan banjir. Foto: Shutterstock – RadarGarut.id
0 Komentar

RADARGARUT– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan musim kemarau 2026 yang menunjukkan perubahan signifikan bagi wilayah Jawa Barat, termasuk Kabupaten Garut.

Menurut prediksi resmi BMKG, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi memasuki musim kemarau mulai bulan Mei 2026, dengan sifat curah hujan yang dominan bawah normal. Ini berarti bulan Mei mendatang akan menjadi transisi menuju periode kering yang lebih awal, lebih panjang, dan lebih kering dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir.

Garut dan Jawa Barat Masuk Kemarau di Mei 2026

Berdasarkan data Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, sekitar 56,1% wilayah Jawa Barat atau 23 Zona Musim (ZOM) akan mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026.

Baca Juga:Infinix GT50 Pro Resmi Rilis: Bawa Teknologi HydroFlow ke Level TertinggiKode Redeem FF 24 April 2026: Buruan Klaim Bundle Eksklusif dan Diamond Gratis Sebelum Hangus

Wilayah yang termasuk di antaranya adalah Garut, Bandung Raya, Sukabumi, Cianjur, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, serta sebagian Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Ciamis, dan Banjar.

Untuk Garut secara khusus, sebagai bagian dari wilayah selatan dan tengah Jawa Barat, transisi ke musim kering diprediksi terjadi pada periode ini. Curah hujan di bulan Mei diperkirakan lebih rendah dari normal, dengan potensi hari-hari cerah berawan meningkat dan hujan yang semakin jarang.

Suhu udara rata-rata di wilayah dataran rendah Jawa Barat, termasuk sekitar Garut, diproyeksikan berkisar antara 19 sampai 30°C, dengan kemungkinan suhu maksimum lebih tinggi pada siang hari akibat berkurangnya tutupan awan hujan.

BMKG juga mencatat bahwa 93% wilayah Jawa Barat akan mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau ini, sementara 81% wilayah berpotensi memiliki durasi kemarau yang lebih panjang.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dengan kondisi kekeringan yang paling ekstrem di sebagian besar provinsi.

Dampak dan Risiko di Garut

Bagi masyarakat Garut, prediksi ini membawa beberapa implikasi penting. Pertanian, khususnya tanaman padi, hortikultura, dan perkebunan di daerah pegunungan maupun dataran, berpotensi menghadapi kekurangan air irigasi.

Petani disarankan mulai mempersiapkan sistem pengairan cadangan atau memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan.Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan di kawasan Garut Selatan atau area berhutan meningkat seiring cuaca yang lebih kering.

0 Komentar