RADARGARUT– Teheran menolak mentah-mentah draf proposal perdamaian yang diajukan Qatar sebagai mediator dalam upaya terbaru meredakan konflik di Timur Tengah.
Pejabat senior Iran menilai rancangan kesepakatan tersebut tidak dapat diterima dan secara tegas menegaskan bahwa Iran tidak akan menunjukkan fleksibilitas terkait program nuklirnya.
Menurut laporan yang dikutip dari pejabat senior Iran kepada Reuters dan dilansir Middle East Eye, Qatar mempresentasikan draf proposal tersebut kepada tim negosiator Iran pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Baca Juga:BEM UI Gelar Aksi Demo di Bundaran HI Hari Ini, Ini Lima Tuntutannya28 Oktober: Hari Sumpah Pemuda dan Hari Animasi Internasional, Dua Momen Bersejarah yang Penuh Makna
Langkah ini merupakan bagian dari upaya diplomatik terkini untuk mencari jalan keluar di tengah perang yang masih berlangsung. Qatar, yang selama ini dikenal aktif sebagai penengah di kawasan, berharap proposal tersebut dapat membuka ruang komunikasi dan menemukan titik temu antara pihak-pihak yang bertikai.
Namun harapan itu kandas. Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa isi proposal tidak memenuhi posisi Teheran. Ia menekankan bahwa persoalan nuklir tetap menjadi garis merah yang tidak bisa diganggu gugat.
Sikap ini memperkuat pandangan bahwa program pengayaan uranium dan pengembangan nuklir Iran masih menjadi hambatan terbesar dalam setiap upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik.
Penolakan Iran ini menambah kompleksitas upaya internasiona untuk meredakan ketegangan. Perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya di kawasan telah berlangsung dengan berbagai eskalasi, termasuk ancaman penggunaan senjata nuklir dari pihak Iran jika diserang kembali, serta serangan-serangan yang melibatkan kelompok proksi seperti Houthi terhadap infrastruktur energi di Arab Saudi.
Dalam konteks ini, peran mediator seperti Qatar menjadi sangat krusial, namun perbedaan mendasar mengenai tuntutan keamanan, jaminan, dan terutama status program nuklir Iran membuat proses negosiasi berjalan sangat sulit.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan rinci mengenai bagian mana dari draf Qatar yang paling ditolak Iran. Apakah hambatan utama terletak pada persyaratan terkait penghentian pengayaan uranium, mekanisme verifikasi, ketentuan gencatan senjata, atau aspek lain dalam kesepakatan masih belum jelas.
Ketidakjelasan ini justru memperpanjang ketidakpastian dan berpotensi memperlambat kemajuan diplomasi.Meskipun penolakan ini merupakan kemunduran, para pengamat menilai jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
