Pertanian Modern PM-AAS Diterapkan di Sukasenang Banyuresmi, Lahan 1 Hektare Gunakan Benih Mekongga 90Kg

istimewa
Pertanian Modern PM-AAS Diterapkan di Sukasenang Banyuresmi, Lahan 1 Hektare Gunakan Benih Mekongga 90Kg
0 Komentar

GARUT – Upaya mendorong penerapan pertanian modern mulai dilakukan di wilayah Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. Pada kegiatan tersebut, sistem Pertanian Modern Model Advanced Agricultural System (PM-AAS) diterapkan pada lahan seluas 1 hektare, dengan menggunakan benih padi varietas Mekongga sebanyak 90 kilogram.

Model tanam yang diterapkan yakni PM-AAS 6:1 dengan sistem legowo, yang menjadi salah satu pola tanam dalam konsep pertanian modern AAS. Sistem tersebut mengedepankan efisiensi penggunaan lahan, mekanisasi, pengelolaan air, penggunaan benih secara terukur, hingga pengelolaan tanaman yang lebih presisi.

Petani Desa Sukasenang, Abdurrahman Muchtar, mengatakan penerapan sistem pertanian modern tersebut menjadi pengalaman sekaligus pembelajaran bagi petani di wilayahnya. Menurutnya, petani harus mulai terbuka terhadap berbagai inovasi yang berpotensi memberikan efisiensi dalam proses budidaya sekaligus meningkatkan hasil produksi.

Baca Juga:70 Semifinalis Lolos Pasanggiri Mojang Jajaka Garut 2026Ketika Berobat Terasa Merepotkan: Risiko Penggunaan Obat Tanpa Konsultasi Tenaga Kesehatan

“Petani sekarang harus mulai terbuka terhadap teknologi dan pola-pola pertanian yang baru. Selama memang bisa memberikan kemudahan, menekan biaya dan hasilnya lebih baik, tentunya sangat bagus untuk diterapkan,” ujar Abdurrahman.

Ia menjelaskan, pada kegiatan di Desa Sukasenang tersebut disiapkan hamparan seluas satu hektare sebagai lokasi penerapan sistem PM-AAS. Benih yang digunakan adalah Mekongga dengan kebutuhan sekitar 90 kilogram untuk satu hektare lahan.

Menurutnya, jumlah tersebut berada dalam kisaran kebutuhan benih yang tercantum dalam Petunjuk Teknis Pertanian Modern Model AAS 2026. Dalam juknis disebutkan bahwa kebutuhan benih pada sistem PM-AAS sekitar 80–100 kilogram per hektare.

“Untuk lahan yang digunakan luasnya satu hektare. Benihnya menggunakan Mekongga sebanyak 90 kilogram. Kemudian pola tanam yang digunakan PM-AAS 6:1 atau sistem legowo,” katanya.

Abdurrahman berharap pelaksanaan tersebut dapat menjadi sarana bagi petani untuk melihat secara langsung perbedaan antara pola pertanian yang biasa dilakukan dengan penerapan sistem pertanian modern.

Menurut dia, petani pada akhirnya akan menilai berdasarkan hasil di lapangan, mulai dari kemudahan proses penanaman, penggunaan tenaga kerja, pemeliharaan tanaman sampai produktivitas ketika memasuki masa panen.

“Petani biasanya lebih mudah memahami kalau langsung melihat di sawah. Jadi mulai dari proses tanam sampai nanti panen bisa menjadi bahan pembelajaran bersama. Kalau hasilnya bagus dan ternyata lebih efisien, tentu menjadi sesuatu yang menarik bagi petani,” tuturnya.

0 Komentar