Oleh: Munafasah Zahra – Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung
PERNAHKAH seseorang memilih membeli obat sendiri karena merasa gejala yang dialaminya sama seperti penyakit sebelumnya? Hal seperti ini mungkin terasa biasa. Ketika keluhan yang sama muncul kembali, sebagian orang merasa tidak perlu memeriksakan diri karena sudah mengenali gejalanya dan mengetahui obat yang pernah digunakan. Padahal, gejala yang terlihat serupa belum tentu memiliki penyebab yang sama.
Keputusan untuk tidak kembali berobat bisa dipengaruhi berbagai hal. Ada yang merasa antrean di fasilitas kesehatan terlalu panjang, ada pula yang menganggap pemeriksaan tidak diperlukan jika keluhannya belum terasa parah. Kebiasaan ini dapat dimengerti, terutama bagi orang lanjut usia atau mereka yang memiliki keterbatasan untuk pergi berobat. Namun, kemudahan mendapatkan obat tidak selalu berarti obat tersebut tepat untuk setiap kondisi.
Persoalan penggunaan obat secara bijak juga perlu diperhatikan di Kabupaten Garut. Sebuah penelitian tentang pengetahuan DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang Obat) pada masyarakat Kampung Bongas, Kabupaten Garut, yang diterbitkan pada 2026, menemukan bahwa 44,6% responden memiliki tingkat pengetahuan yang rendah tentang DAGUSIBU. Temuan ini hanya menggambarkan responden dalam penelitian tersebut dan tidak dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat Garut. Meski begitu, hasilnya menunjukkan bahwa edukasi mengenai pengelolaan dan penggunaan obat masih penting untuk diperhatikan.
Baca Juga:Kebakaran Hebat Landa Pasar Andir Garut, Sedikitnya 26 Kios Hangus Terbakar26 Tahun Biznet, Perluas Infrastruktur Digital hingga Siapkan AI-Ready Data Center
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa pengobatan sendiri atau swamedikasi dapat dilakukan untuk keluhan ringan dengan menggunakan obat bebas atau obat bebas terbatas sesuai petunjuk. Namun, obat keras, termasuk antibiotik, tidak boleh digunakan sembarangan tanpa resep dokter.
Menggunakan kembali obat yang pernah diresepkan tanpa berkonsultasi juga berisiko tidak sesuai dengan kondisi saat ini. Selain itu, seseorang dapat melewatkan pemeriksaan yang sebenarnya diperlukan apabila hanya berfokus pada meredakan gejala.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan pengobatan mandiri yang tepat dengan kebiasaan menggunakan obat tanpa mempertimbangkan kebutuhan medis. Untuk keluhan ringan, masyarakat dapat membaca aturan pada kemasan dan meminta penjelasan apoteker jika belum memahami cara penggunaan obat.
