Diungkapkannya, dalam Petunjuk Teknis Pertanian Modern Model AAS 2026 dijelaskan, PM-AAS merupakan sistem pertanian intensif berbasis teknologi tinggi yang menekankan efisiensi, mekanisasi dan presisi. Sistem tersebut mengadopsi antara lain pola tanam benih langsung dengan jarak rapat serta manajemen intensif terhadap unsur hara, irigasi dan pengendalian gulma.
“Salah satu ciri PM-AAS adalah penerapan pola tanam rapat dalam baris. Terdapat dua model yang disebut optimum dalam juknis, yakni PM-AAS 4:1 dan PM-AAS 6:1, dengan lorong kosong atau legowo. Pola tersebut dirancang untuk mempermudah pengelolaan tanaman, meningkatkan penetrasi cahaya serta mendukung sirkulasi udara,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi, Faisal R. Saepuloh, menilai kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi kelompok tani untuk mengenal sistem budidaya yang lebih modern dan terukur.
Baca Juga:70 Semifinalis Lolos Pasanggiri Mojang Jajaka Garut 2026Ketika Berobat Terasa Merepotkan: Risiko Penggunaan Obat Tanpa Konsultasi Tenaga Kesehatan
Menurut Faisal, tantangan pertanian saat ini semakin besar. Petani dihadapkan pada persoalan ketersediaan tenaga kerja, biaya produksi, perubahan kondisi cuaca hingga tuntutan untuk meningkatkan produktivitas.
Karena itu, inovasi pertanian menurutnya perlu dikenalkan kepada kelompok tani melalui praktik langsung.
“Kami di Gapoktan tentunya menyambut baik adanya kegiatan seperti ini. Petani bukan hanya diberikan teori, tetapi bisa melihat dan mengikuti langsung prosesnya di lapangan,” ujar Faisal.
Ia menyebut penggunaan satu hektare lahan dengan benih Mekongga 90 kilogram dan pola tanam PM-AAS 6:1 diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bersama.
“Yang kita lihat nanti bukan hanya tanamnya. Kita ikuti bagaimana pertumbuhannya, pemeliharaannya, penggunaan airnya, sampai hasil panennya. Dari sana akan terlihat bagaimana efektivitas sistem ini ketika diterapkan di Sukasenang,” katanya.
Faisal mengatakan, penerapan sebuah teknologi pertanian harus tetap memperhatikan kondisi lahan setempat. Hal itu penting karena karakteristik lahan, sumber air serta kebiasaan budidaya petani di setiap wilayah tidak selalu sama.
Dalam juknis PM-AAS, dikatakan Faisal, aspek spesifik lokasi memang menjadi salah satu prinsip utama. Sistem pertanian modern tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik agroekosistem setempat, termasuk kondisi lahan dan pengaturan air.
Baca Juga:Kebakaran Hebat Landa Pasar Andir Garut, Sedikitnya 26 Kios Hangus Terbakar26 Tahun Biznet, Perluas Infrastruktur Digital hingga Siapkan AI-Ready Data Center
“Teknologi tetap harus disesuaikan dengan kondisi lapangan. Pengalaman petani juga sangat penting karena mereka yang setiap hari mengetahui kondisi sawahnya,” ucap Faisal.
