Menurutnya, untuk sekarang pemberangkatan tahap kedua, yang berlangsung selama 3 bulan di Jepang untuk beradaptasi dan pelatihan.
“Nah, nanti di screening yang jadi pekerjanya belum tentu jumlahnya 28. Setelah 3 bulan disana lalu ada penyaringan tahap ketiga untuk pemberangkatan bulan Januari,” kata Nia.
Nia mengungkapkan, bahwa Pemda Higashikawa telah membiayai full untuk program tersebut selama 3 bulan, dari mulai pelatihan, ongkos, hingga biaya hidup di Jepang.
Baca Juga:Sisa Pembakaran Sampah Hanguskan Kandang Ayam di Singajaya Garut, Kerugian Ditaksir Rp15 JutaDewan Pendidikan Laporkan Rencana Rakornas, Garut Dipercaya Jadi Tuan Rumah
“Satu orang itu menerima hampir Rp105 juta. Nah yang biaya sendiri itu hanya pengurusan paspor saja dan visa,” ungkapnya.
Dengan begitu, Nia berharap agar kerjasama antara Pemda Garut dan Pemda Higashikawa Jepang ini jangka panjang, dan mulai muncul lowongan kerja diberbagai sektor. “Tapi yang prioritas adalah pertanian dan pertanakan,” harapnya.
Sementara itu, Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menyebut kerja sama pengiriman PMI ke Jepang sebagai langkah Pemkab Garut untuk menyerap puluhan ribu pencari kerja baru tiap tahunnya akibat bonus demografi.
“Kami sampaikan kan tiap tahun kita lahir banyak pilihan ribu, dan kita tahun 2018 seingat saya itu 54 ribu, sekarang 42 ribu. Berarti apa? Tiap tahun ada penambahan orang masuk lapangan kerja kurang lebih 40 sampai 50 ribu,” pungkasnya. (*)
