Prabowo Tanggapi Rupiah Melemah: "Rakyat di Desa Enggak Pakai Dollar Kok!"

Presiden RI Prabowo Subianto berbicara tentang serakahnomics untuk pengusaha licik
Presiden RI Prabowo Subianto di Koperasi Desa Merah Putih Bentangan, Kabupaten Klaten ketika berkelakar tentang Serakahnomics, pada Senin (21/7/2025).
0 Komentar

Dampak yang Tak Terlihat Langsung

Pelemahan rupiah ke level Rp17.600 merupakan yang terlemah sejak krisis 1998, disebabkan kombinasi tekanan global (penguatan dolar AS dan geopolitik Timur Tengah) serta faktor domestik seperti kebutuhan valas dan sentimen pasar.

Meski pemerintah mengklaim cadangan devisa masih memadai, kenaikan harga bahan baku impor berpotensi memicu inflasi yang menyentuh kelompok rentan di pedesaan.

Ekonom dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menambahkan bahwa framing “enggak pakai dollar” berisiko menumbuhkan pemahaman yang keliru di masyarakat.

Baca Juga:Jutaan Buruh Samsung Mogok Kerja: Ekonomi Terancam AmbrukRupiah Ambruk ke Rp17.600, Warga & Pengusaha Ramai Borong Dolar AS!

“Ini bisa membuat publik semakin kurang kritis terhadap kebijakan ekonomi. Padahal, stabilitas rupiah adalah cerminan kesehatan fundamental ekonomi, termasuk produktivitas, investasi, dan pengelolaan fiskal,” ujarnya.

Kritik juga datang dari kalangan pengamat yang menyebut pernyataan tersebut sebagai bentuk downplaying terhadap tantangan serius yang dihadapi pemerintah. Alih-alih menenangkan, pernyataan seperti ini dikhawatirkan justru mengurangi kesadaran kolektif akan pentingnya reformasi struktural untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat nilai tukar.

Pemerintah sendiri melalui Bank Indonesia terus melakukan intervensi pasar. Namun, di tengah pelemahan yang berkepanjangan, masyarakat diharapkan tidak hanya mengandalkan narasi optimisme semata, melainkan juga memahami risiko jangka panjang terhadap inflasi, investasi, dan kesejahteraan secara keseluruhan.(*)

0 Komentar