Bukan Hanya Perasaan! Indonesia Alami Cuaca Kering dan Panas Ekstrem Berikut Wilayah Dengan Suhu Terpanas

(Unsplash/radargarut.id)
Sepertiga wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau (Unsplash/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Hingga pertengahan Oktober 2026, sebagian besar wilayah Indonesia dilanda kondisi cuaca kering dan panas ekstrem.

Penurunan curah hujan yang signifikan dipicu oleh kombinasi dua fenomena atmosfer kuat: El Nino kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi ini membuat suhu udara di sejumlah daerah melonjak tajam, bahkan menembus angka 38 derajat Celsius.

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 pada awal Oktober mencapai +3,33 derajat Celsius. Indeks El Niño-Southern Oscillation (ENSO) periode Agustus-September-Oktober tercatat positif 3,08. Sementara itu, indeks IOD dasarian berada di angka positif 0,703.

Baca Juga:Prakiraan Cuaca Kabupaten Garut Hari Ini: Berawan Dominan, Waspadai Hujan Ringan di Beberapa KecamatanMassa Demo Panjat Monumen, Bentangkan Spanduk 5 Tuntutan untuk Prabowo

Gabungan kedua fenomena ini secara signifikan mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, sehingga radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal.

Dampaknya tidak hanya terasa pada suhu udara, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. BMKG mencatat adanya 1.297 titik panas (hotspot) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sebaran terbanyak ada di Sumatera dengan 505 titik, diikuti Kalimantan 346 titik, Papua dan Maluku 330 titik, Sulawesi 66 titik, Nusa Tenggara 38 titik, serta Jawa 12 titik. Periode tanpa hujan yang panjang membuat vegetasi lebih mudah terbakar, terutama di wilayah rawan.

Pada tanggal 12–13 Oktober 2026, beberapa daerah mencatat suhu tertinggi. Lampung menjadi wilayah terpanas dengan suhu mencapai 38,2 derajat Celsius. Di urutan berikutnya, Papua Selatan dan Kalimantan Selatan sama-sama mencatat 37,4 derajat Celsius. Sementara itu, Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing mencapai 37,8 derajat Celsius.

Angka-angka ini menunjukkan betapa ekstremnya kondisi cuaca yang terjadi di tengah minimnya tutupan awan.Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kombinasi El Nino dan IOD positif memperparah serta memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Akibatnya, musim hujan 2026/2027 diperkirakan datang lebih terlambat dibanding rata-rata klimatologis dan berlangsung dengan durasi yang lebih singkat. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan bahwa puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember, Januari, dan Februari.

Dari total Zona Musim (ZOM) yang diamati, 51,90 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami musim hujan lebih pendek dari normal, sementara hanya 8,58 persen yang lebih panjang, dan 5,06 persen sama dengan normal.

0 Komentar