Rupiah Tembus Rp 17.100 per Dolar AS: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Pastikan APBN 2026 Tetap Aman

(Istimewa)
Nilai rupiah anjlok (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Nilai tukar rupiah kembali mencatat rekor pelemahan baru pada Selasa 7 April 2026.

Di pasar spot, mata uang Garuda ditutup melemah 0,42 persen ke level Rp 17.105 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp 17.119 di perdagangan intraday.

Ini menjadi level terlemah sepanjang sejarah rupiah dalam beberapa tahun terakhir dan jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang dipatok pemerintah di kisaran Rp 16.500 per dolar AS.

Baca Juga:Iran 'Tutup Pintu' Kerja Sama Kilang Minyak dengan Indonesia, Imbas Konflik GeopolitikGenerasi Muda Bulutangkis Indonesia Siap Bersinar di Badminton Asia Championships 2026

Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan ini masih berada dalam skenario yang telah disiapkan pemerintah.

“Enggak, saya tekankan dulu ya, angka simulasi itu rupiahnya bukan rupiah di APBN yang sebelumnya, sudah dinaikkan ke level tertentu, jadi itu masih termasuk dalam hitungan skenario,” ujarnya.

Kementerian Keuangan tidak hanya mengandalkan satu asumsi nilai tukar saja. Pemerintah telah menyiapkan berbagai simulasi dan stress test untuk mengantisipasi gejolak pasar global.

Menurutnya, pergerakan rupiah saat ini tidak akan serta-merta mengganggu postur anggaran negara karena berbagai langkah antisipatif sudah disiapkan.

Purbaya juga enggan menyebutkan angka pasti simulasi terbaru yang digunakan pemerintah. Ia khawatir pernyataan tersebut justru memicu spekulasi di pasar valuta asing.

“Saya enggak bilang rupiahnya berapa. Nanti kalau saya bilang, ‘oh kata Menteri Keuangan rupiah ke sana’, kamu sudah beli dollar? Jadi kita serahkan ke bank sentral, ke ahlinya,” katanya sambil menunjukkan kepercayaan penuh kepada Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas rupiah.

Pelemahan rupiah kali ini banyak dipicu oleh faktor eksternal, terutama eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut tenggat waktu yang diberikan Presiden AS Donald Trump kepada Iran terkait Selat Hormuz menjadi pemicu utama kekhawatiran pasar.

Baca Juga:Dedi Mulyadi Permudah Perpanjangan STNK di Jawa Barat: Tak Perlu KTP Pemilik Lama untuk Perpanjangan TahunanLonjakan Wisatawan Garut 59,7% di Lebaran 2026: E-Ticketing Jadi Senjata Utama Modernisasi Pariwisata

Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat pasokan energi global dan mendorong harga minyak dunia naik tajam.

Kondisi ini meningkatkan premi risiko di pasar keuangan, sehingga investor cenderung menghindari aset emerging market seperti rupiah dan beralih ke dolar AS sebagai safe haven. Selain itu, BI telah melakukan intervensi di pasar spot dan forward non-deliverable untuk meredam volatilitas.

0 Komentar