GARUT – Kinerja Dinas Pendidikan Kabupaten Garut menjadi perhatian terkait kondisi kepemimpinan di SMPN 2 Bayongbong yang dinilai belum optimal. Pasalnya, sekolah tersebut sudah hampir satu tahun dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah.
Ketua Komite SMPN 2 Bayongbong, Naryana, menilai status Plt berdampak terhadap efektivitas pengelolaan sekolah, khususnya dalam hal kehadiran dan pengawasan kegiatan belajar mengajar.
“Tanggung jawab seorang Plt tidak akan sama dengan kepala sekolah definitif, paling tidak dari sisi kehadiran,” ujar Naryana.
Baca Juga:Bupati Garut: PNS Baru Jangan Terburu-buru Pinjamkan SK ke BankKejurda Voli U-18 Digelar di Garut, Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat
Kondisi ini, kata dia, berdampak pada lemahnya pengawasan terhadap proses pembelajaran siswa oleh para guru.
Naryana menjelaskan, sebelumnya, SMPN 2 Bayongbong sempat dipimpin oleh Plt Kepala Sekolah, Apip, selama dua periode atau sekitar enam bulan. Setelah itu, posisi tersebut kembali diisi oleh Plt baru, yakni Ateng Ali Hasyim yang juga menjabat sebagai kepala sekolah di SMPN 1 Singajaya.
Rangkap jabatan tersebut dinilai membuat kinerja menjadi kurang efektif, mengingat jarak dan beban tugas yang harus dijalankan.
“Apalagi Plt yg sekarang, tugas utamanya Sebagai KS di SMPN 1 Singajaya sangat jauh,” jelasnya.
Sebagai bentuk perhatian, Naryana telah mencoba mengonfirmasi kondisi tersebut kepada Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Teguh Imam Pribadi melalui pesan WhatsApp. Namun, menurutnya, respons yang diterima tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Kabid hanya menjawab “muhun”.
Diungkapkan juga, bahwa SMPN 2 Bayongbong dalam lima tahun terakhir mengalami pergantian kepala sekolah hingga enam kali.
“Saya khawatir kualitas siswa jadi menurun akibat gonta-ganti kepala sekolah, serta belum adanya kepala sekolah yg depinitif,” pungkasnya.(Feri)
